Karena tak punya biaya, balita penderita gizi buruk di Tuban dirawat seadanya di rumah. Balita itu kini menderita komplikasi.
Seorang balita terlihat lelap dalam gendongan perempuan muda. Tubuh balita berusia 1,5 tahun itu terlihat kurus. Berat badannya berbeda dengan balita-balita seusianya.
Dia adalah Andika Amirul Fuad, balita asal Dusun Karangrejo, Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Balita ini didiagnosa dokter RSUD Dr R Koesma Tuban menderita gizi buruk. Tak hanya itu, akibat kurangnya asupan gizi, Andika saat ini mengidap komplikasi berbagai penyakit.
Nasib Andika memang tidak seberuntung anak seusianya. Selain karena sakit yang dideritanya, balita ini diketahui yatim sejak masih dalam kandungan ibunya, Sulasih (31). Sedangkan sang ayah, meninggal saat usia kandungan Sulasih baru berumur tiga bulan.
“Ayahnya meninggal saat saya masih mengandung,†kata Sulasih lirih ketika didatangi di kediamannya, Kamis (10/10/2013).
Dengan suara berat, Sulasih kemudian menceritakan ihwal sakit yang diderita anak semata wayangnya. Sakit yang diderita Andika bermula ketika dia diserang demam berat beberapa bulan lalu. Saat itu, Sulasih mengaku hanya mengobati anaknya dengan obat penurun panas biasa.
Tapi sakit yang diderita Andika bukannya sembuh. Tubuh Andika semakin kurus dan selalu sakit-sakitan. Bahkan tubuhnya seperti mengeluarkan sisik.
Khawatir dengan kondisi Andika, Sulasih kemudian membawanya ke RSUD Dr R Koesma Tuban menggunakan kartu layanan Jamninan Kesehatan Masyarakat Miskin (Jamkesmas). Saat diperiksa dokter itulah baru diketahui kalau anaknya menderita gizi buruk. Serta mengalami sakit di paru-paru, jantung, dan lambung.
“Baru tahu penyakitnya saat saya bawa ke Rumah Sakit,†ucap Sulasih, menerangkan.
Melihat Kondisi Andika, kata Sulasih, dokter yang menangani kemudian menyarankan supaya anaknya dibawa ke RS Dr Soetomo Surabaya. Tapi karena keterbatasan biaya, Sulasih mengurungkan niatnya untuk membawa anaknya berobat.
Maklum, sejak ditinggal suaminya, Sulasih harus banting tulang untuk menghidupi anaknya. Meskipun begitu, penghasilannya sebagai buruh tani tidak cukup untuk ongkos berobat putra satu-satunya.
“Biaya berobatnya gratis Mas, tapi selama disana kan butuh ongkos untuk transportasi juga makan,†tambah dia, menerangkan.
Dalam ketidakberdayaan tersebut, Sulasih hanya merawat Andika seadanya dirumah. Sedangkan tubuhnya dari hari ke hari semakin kurus karena kurangnya asupan gizi.
Kepala Desa Karanglo, Sunandar, mengatakan, kalau Andika sudah pernah berobat ke RSUD Dr R Koesma Tuban menggunakan kartu Jamkesmas. Karena keluarga tersebut masuk Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).
“Kita mengusahakan Jamkesmas saat itu,†sambung Sunandar.
Dia mengatakan, keluarga ini disarankan untuk berobat ke Surabaya. Tapi karena tidak ada biaya transportasi maupun makan selama pengobatakan, kemudia Andika terpaksa dirawat ibunya sendiri dirumah.
“Kita berharap ada pihak-pihak yang mau peduli dan mau membantu keluarga ini, baik itu perorangan, perusahaan, maupun instansi pemerintah,†ujarnya. (edy purnomo)