SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro – Sebelum Desa Gayam dibangun menjadi tempat pemprosesan minyak bumi oleh ExxonMobile Cepu Limited (EMCL), Kamidin, warga Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini adalah sosok petani sederhana. Tak terbersit sekalipun cita-cita untuk menjadi seorang kontraktor, bahkan hingga punya perusahaan sendiri.
Kepada Suara Banyuurip, Kamidin, atau lebih dikenal dengan panggilan Lek Kam, bercerita bahwa semula berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, kontraktor pemenang tender EPC-1 Banyu Urip, yaitu PT Tripatra Engineers And Constructors, membutuhkan tanah urug, untuk meninggikan tanah yang akan didirikan bangunan.
Sebagai warga lokal, dirinya lantas menawarkan diri untuk membantu menyediakan tanah tersebut, meski saat itu sama sekali tidak memiliki pengalaman mencari tanah urug. Tak disangka, meski tidak memiliki pengalaman, kontraktor EPC-1 ternyata bersedia menerima tawaran dirinya, dengan pertimbangan bahwa dirinya adalah warga local.Â
“Main Contractor (PT Tripatra) tidak hanya membeli tanah urug, tapi juga ngajari saya bagaimana saya harus menggunakan perusahaan saya, bagaimana saya harus membuat system administrasi yang baik, serta bagaimana saya mengurus pajak,†ungkap Kamidin.
Dengan bendera CV Prima Abadi, pelan tapi pasti, usaha Kamidin akhirnya mulai berkembang. Jika sebelumnya tidak memiliki armada truk, sekarang tercatat ada puluhan Truk yang dia operasikan di lapangan EPC-1 Banyuurip.
Jika sebelumnya CV Prima Abadi hanya mengerjakan tanah uruq, seiring dengan bertambahnya pengalaman, perusahaan tersebut kini telah merambah di berbagai bidang usaha, seperti pengadaan material serta jasa security.
“Semua ini nggak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ini menjadi berkah bagi kami sebagai warga Gayam, karena Karyawan-karyawan di perusahaan saya ambil dari warga sekitar juga, yang lebih paham dengan daerah Gayam,†papar Kamidin.
Banyak pelajaran yang dia peroleh selama bekerjasama dengan kontraktor nasional. Salah satunya adalah prinsip kejujuran dan komitmen atas hasil pekerjaan, sesuai dengan kesepakatan awal.
“Pelajaran besar yang saya peroleh adalah, kalau kita sudah komitmen untuk mengerjakan, ya harus kita selesaikan. Misalnya ada permintaan pedel 5 rit, kalau kita sudah bilang sanggung ya harus dikirim 5 rit beneran, dan tidak boleh dikurangi,†ujar Kamidin.
Dirinya juga mengakui, dalam bisnis, ada pasang surutnya. Kadang orderan juga sepi, sehingga kita dipaksa untuk berpikir keras bagaimana harus menjaga hubungan dengan para rekanan, agar tetap bisa saling membantu dan saling menguntungkan.
“Namanya usaha, pasti ada manis dan pahitnya. Kadang kebutuhan untuk membayar material sudah mendesak, tapi tagihan belum clear. Disaat itulah kita banyak belajar tentang bagaimana mengatur uang perusahaan. Bagaimana mengukur kemampuan perusahaan, agar perputaran dana tidak berlebihan, sehingga akhirnya membuat susah sendiri,†jelas Kamidin.
Saat ini, ketika proyek di EPC-1 Banyuurip menjelang selesai, Kamidin mengaku sudah mendapatkan banyak pelajaran positif, yang akan bermanfaat pada proyek-proyek selanjutnya. Dengan pengalaman tersebut, dirinya juga merasa lebih siap untuk berdampingan dengan kontraktor local yang lain, menangkap peluang usaha baru di Bojonegoro.
“Kalau kita mau jujur, apa yang sudah kita dapatkan dari EPC-1 Banyuurip luar biasa. Hasil (Uang) kita dapat, ilmu juga kita dapat. Tidak banyak perusahaan nasional yang mau ngajari warga local dari awal seperti mereka,†pungkas Kamidin.
Kamidin juga berharap, ketika PT Tripatra yang selama ini menjadi tumpuan harapan para kontraktor lokal tersebut telah pergi meninggalkan Gayam, pemerintah daerah Bojonegoro tidak lepas tangan untuk membina kontraktor lokal.
“Harapannya, sepeninggal Tripatra, pemerintah daerah tidak lepas tangan, tapi mau membimbing kami, memfasilitasi peningkatan ilmu dan pengetahuan kami, serta memberikan kesempatan kepada kami agar bisa semakin berkembang di masa mendatang,†pungkas Kamidin. (roz)