17 Tahun Anak Sakit Tak Mampu Berobat

sakit

Siapapun tahu kalau Bojonegoro kini telah menjadi kota Migas dengan berbagai kemakmurannya. Meski begitu masih ada kemiskinan akut menimpa warganya.

Slogan Lumbung Pangan dan Lumbung Energi yang digadang-gadang Bupati Bojonegoro, Suyoto, belum membuat keadaan masyarakat pinggiran, dan pelosok desa membaik. Upaya Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur untuk menyeimbangkan antara kedua potensi tersebut, belum tentu menyentuh kesejahteraan masyarakat miskin.

Fakta lapangan menyebut, di tengah hampar hutan jati, tepatnya di wilayah Badan Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Dander, terdapat sebuah rumah kayu yang masih jauh dari kata sederhana. Tampak di dalam rumah sinar matahari dengan mudahnya menerobos sela dinding kayu yang berlubang di sana sini.

Di dalam rumah reyot yang nyaris ambruk inilah tinggal suami istri berusia lanjut, Sarimin (75), dan Dami (70). Keterbatasan ekonomi menjadikan keluarga yang menghuni sudut Desa Dander, Kecamatan Dander, Bojonegoro ini terpuruk. Mereka tak mampu mengobati anaknya yang sedang sakit.

Tinggal di tengah hutan yang jauh dari pemukiman warga. Bahkan, anaknya yang sakit sejak 17 tahun lalu sampai saat ini, belum pernah dia obatkan ke rumah sakit.

Baca Juga :   Kapolres AKBP EG Pandia Beri Bantuan Kursi Roda Korban Pencabulan

Keluarga ini tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan. Rumah, yang oleh warga setempat layak disebut gubuk, itu tanpa ada aliran listrik. Tempat tinggal beralaskan tanah ini ketika hujan datang, tak bisa lagi dipakai berteduh dengan baik. Titik-titik air hujan menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga ini, jika musim penghujan datang.

Mbah Sarimin, demikian sang kepala rumah tangga ini akrab dipanggil, mengaku, tinggal di hutan bersama istri dan anaknya, Muhammad Miko (23), sejak 17 tahun silam. Bersamaan sang anak mengalami sakit gangguan kejiwaan.

Awalnya, menurut Mbah Sarimin, Miko hidup normal laiknya anak-anak sebayanya yang menghuni Desa Dander. Ketika berusia empat tahun Miko mengalami musibah, terjatuh dan kepalanya membentur tanah.

“Dulu itu gara-gara jatuh, kepalanya terbentur, kata dokter di Puskesmas kena gegar otak,” ujar Mbah Sarimin.

Pasca kejadian tersebut anaknya terlihat mengalami kelainan. Mbah Sarimin sudah berusaha mengobati anaknya di Puskesmas setempat, namun tidak ada hasilnya. Karena khawatir anaknya mengganggu warga lain, dengan terpaksa memilih untuk meninggalkan kampung halamannya, dan tinggal di tengah hutan.

Baca Juga :   73 Desa di Bojonegoro Terancam Krisis Air Bersih

“Ya karena itu saya memilih tinggal di  tengah hutan. Takut kalau tetangga terganggu dengan anak saya,” tambahnya dengan setengah Bahasa Jawa.

Di dalam sebuah ruangan sempit Miko dikurung. Orangtuanya khawatir kalau anaknya ke luar rumah malah tidak pulang.

“Dulu pernah saya pasung, tapi kasihan anaknya,” tuturnya.

Meski sudah belasan tahun hidup di tengah kondisi yang memprihatinkan, namun belum ada pihak yang serius untuk memperhatikan nasib keluarga ini. Tak jelas pula bagaimana sikap perangkat desa, atau pihak Kantor Camat Dander terkait nasib yang menimpa keluarga ini.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga ini bergantung pada jatuhnya ranting kayu yang ada di wilayah hutan. Setelah dikumpulkan rencek (ranting kayu) mereka jual kepada warga yang ada di perkampungan terdekat. Dari pintu ke pintu, Mbah  Sarimin dan istrinya, menawarkan kayu yang mereka gendong ke luar hutan setiap hari.

“Lumayan, sehari sampai dua puluh ribu,” tambah kakek murah senyum ini. (ririn wedia)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *