Komisi VII Nilai Change Order Tidak Relevan

SuaraBanyuurip.com -  Athok Moch Nur Rozaqy

Bojonegoro- Wacana Change Order (CO) yang sempat mencuat ditengah upaya percepatan penyelesaian mega proyek Lapangan Banyuurip, Blok Cepu dinilai anggota Komisi VII DPR RI, SW Yudha tidak relevan.

“Change Order itu jelek dan tidak relevan,” kata dia kepada Suarabanyuurip.com belum lama ini.

Menurut dia, CO hanya bisa diajukan apabila adanya perubahan desain proyek yang dirasa sangat urgen. Yudha mengungkapkan, permasalahan di proyek Banyuurip masih bisa dikejar dengan cara memaksimalkan jumlah tenaga kerjanya. Terutama di proyek EPC 1 yang dikerjakan oleh konsorsium PT.Tripatra – Samsung.

“Itu salah satu upaya yang dilakukan, kontraktor jangan hanya memperhitungkan sisi ekonomisnya agar mendapat keuntungan yang terlalu besar,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, target produksi puncak Banyuurip, Blok Cepu lebih penting dan jangan sampai molor.

“Pemerintah telah mematok kebutuhan minyak nasional sebesar 1 juta bph bisa terpenuhi salah satunya dari Blok Cepu,” ujarnya.

Produksi Banyuurip, lanjut dia, saat ini masih berada dikisaran 26,4 ribu bph. Karenanya pada kuartal tiga tahun 2014 nanti, 165 ribu bph pada puncak produksi bisa keluar sesuai terget.

Namun apabila molor, negara bisa mengalami kerugian. Termasuk berpengaruh terhadap jumlah cost recovery.

Sementara, pemerintah telah mentargetkan cost recovery didalam APBN 2013 sebesar USD 15,2 milyar. Sedangkan jumlah cost recovery yang realisasi terhitung USD 13 milyar dari 74 lebih kegiatan yang dilakukan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) di Indonesia.

“Sehingga wajar kalau kita desak agar proyek ini jangan sampai tertunda lagi,” harap SW Yudha. (roz)

Baca Juga :   SKPD Diminta Segera Buat RKA

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *