SuaraBanyuurip.com -Â D Suko Nugroho
Bojonegoro – Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) menggelar Forum Group Discussion (FGD) studi sosio ekonomi Proyek Pengembangan Gas Lapangan Unitisasi Jambaran – Tiung Biru, Kamis (14/11/2013). Kegiatan ini sebagai tahapan awal sebelum proyek Gas Cepu dimulai.
Dalam studi ini PEPC menggandeng Universitas Proklamasi (UP 45) Yogyakarta. Ada 10 ruang lingkup yang dilakukan studi. Yaitu tentang analisis tipologi masyarakat, peta demografi, manfaat sosio ekonomi, kebutuhan masyarakat, potensi permasalahan dan jaringan bisnis. Kemudian, jaringan komunikasi, potensi konflik, lokasi yang dikeramatkan, dan stakeholder potensial.
Studi itu dilakukan dibeberapa desa di empat kecamatan yang menjadi cakupan rencana pengembangan proyek. Yakni area akses jalan yang meliputi Desa Purwosari, Gapluk, dan Kuniran, Kecamatan Purwosari.
Di area tapak sumur mencakup Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, dan Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari.
Sedangkan di area jalur pipa meliputi Malingmati, Kecamatan Tambakrejo, Desa Dolog Gede dan Pelem, Kecamatan Purwosari, Desa Ngraho, Mojodelik, Bonorejo dan Brabowan, Kecamatan Gayam.
“Kita melakukan penelitian ini sejak September kemarin di sekitar wilayah yang menjadi lokasi proyek,” kata Team Leader Studi Sosio Ekonomi Pengembangan, Andriya Risdwiyanto dalam FGD di Aula Perhutani KPH Bojonegoro.
FGD ini menghadirkan perwakilan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, lembaga vertikal, lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal.
Andriya menerangkan, maksud dan tujuan dari studi yang dilakukan adalah untuk memberikan informasi yang akurat mengenai keadaan dan kondisi sosial proyek pengembangan Gas Lapangan Unitisasi Jambaran – Tiung Biru.
“Selain itu memberikan rekomendasi terkait program-program kemasyarakatan jangka pendek dan panjang yang dapat dilakukan dan yang tak bisa dilakukan dalam proyek tersebut nantinya,” ujarnya.
Andriya mengungkapkan, dari hasil studi yang dilakukan, harapan terbesar masyarakat terhadap keberadaan industri migas adalah pekerjaan mencapai 50 persen lebih, sejahtera 40 persen dan sisanya berharap bantuan.
Juru bicara PEPC, Edy Purnomo, mengatakan, dari hasil FGD studi sosio ekonomi inilah yang nantinya akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan program maupun kegiatan lain dalam pengembangan proyek pengembangan gas Lapangan Unitisasi Jambaran – Tiung Biru.
“Dengan studi ini kita akan mengetahui kondisi riil sosial ekonomi masyarakat. Sehingga program maupun kegiatan yang dilaksanakan nanti benar-benar akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” sambung Edy.
Sebelum melakukan ditingkat kabupaten, UP 45 juga melakukan FGD ditingkat bawah dengan melibatkan perwakilan masyarakat, perintah desa, kecamatan. (suko)