SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Penyebab terjadinya semburan air dan lumpur yang menyertai minyak mentah di sumur tua D67 di Dusun Sendang Ilo, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa-Timur  saat ini masih diteliti Pertamina EP Asset 4.
Selama ini sumur tinggalan pemerintah kolonial Belanda tersebut dikelola warga secara berkelompok dengan anggota 30 orang. Mereka sesuai ijin yang diberikan akan mengelola sumur secara tradisional.
Penanggung jawab pengelolaan sumur tua, Sopran (40), mengatakan, kelompok penambang tradisional itu berusaha mengeksplorasi kembali sumur tua dengan kedalaman 400 meter. Namun, saat ditambang tiba-tiba ke luar semburan minyak mentah atau yang biasa disebut lantung bercampur dengan lumpur, air, dan pasir.
Â
Dari pantauan di lokasi, untuk sementara semburan minyak bercampur lumpur itu dialirkan ke bak tampungan sumur D 67 di dekat lokasi. Untuk mengurangi tekanan semburan, Pertamina EP Asset 4, dan warga menutup sumur D 67 itu dengan plat baja berukuran 2 meter x 2 meter.
“Di sekitar lokasi semburan terasa bau menyengat dan bisa membuat kepala pusing,” kata Sopran.
Â
Dia katakan, sumur tua D 67 itu dikuasai oleh PT Spektra Abadi Mukti yang mendapatkan rekomendasi pengelolaan dari Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Pangan, Kecamatan Kedewan.
Tim Pemkab Bojonegoro, salah satunya BLH telah menghimbau masyarakat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Diantaranya, berhati-hati di lokasi semburan minyak bercampur lumpur itu dengan tidak memantik api.
Â
“Untuk memastikan kandungan semburan itu, mendatangi lokasi dan dari hasil uji sementara diketahui semburan itu mengandung air sekitar 80 persen, dan minyak sekitar 20 persen. Ketinggian semburan sekitar 15-20 meter,” tukas Kepala BLH,Tedjo Sukmana. (rien)