SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Pasca bocornya sumur tua D-67 Wonocolo, di Dusun Sendangilo, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur yang dikelola warga secara tradisional beberapa waktu lalu direaksi serius Asosiasi Penambang Rakyat (Aspera) Bojonegoro.
Lembaga yang berkantor di RT/RW 02/01 Desa Kedungrejo, Kecamatan Malo, Bojonegoro itu meminta, agar pemerintah memberi pembinaan dan pelatihan terhadap penambang sumur tua. Selama ini penambang minyak tradisional tak memiliki skill sehingga raswan terjadi insiden yang merugikan warga, dan lingkungan sekitarnya. Â
Ketua Aspera, Lariyanto, mengatakan, suatu hal yang sangat membahayakan jika insiden itu terjadi lagi. Oleh karena itu harus ada langkah cepat, tepat dari pihak terkait untuk memberikan pengetahuan kepada warga penambang. Baik dari Pemkab Bojonegoro, Pertamina maupun Koperasi Unit Desa (KUD) yang menaunginya.
“Minimnya pengetahuan terhadap pengelolaan sumur minyak, Mas, dan seharusnya penambang sumur tua mendapatkan pelatihan dari pihak terkait. Karena selama ini mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan tentang itu,” kata Lariyanto melalui pesan pendek, Selasa (19/11/2013), kepada suarabanyuurip.com.
Dia menjelaskan, KUD yang menaunginya harus mengajukan kepada Pertamina / GEO untuk melakukan pelatihan terkait pengerjakan sumur tua. Karena GEO itu merupakan gabungan dari beberapa perusahaan yang berasal dari luar negeri.
“Lengkapnya Geo Cepu Indonesia, Mas. Sedangkan, perusahaan yang tergabung setahu saya adalah Malaisya, Singapura itu aja,” jelasnya.
Â
Dikonfirmasi terpisah, Legal dan Relations Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP) Asset 4, Arya Dwi Paramita, mengatakan, KUD yang menaungi harus memberikan pemahaman kepada warga untuk pengelolaan sumur tua itu secara jelas. Agar, ke depannya insiden tersebut tidak terulang kembali.
“Sementara ini, kami sudah melakukan edukasi kepada KUD yang menaungi para penambang, tentang pemahaman terhadap pola pengelolaan sumur tua sesuai ketentuan, dan utamanya aspek keselamatan dan lingkungan,” ungkap Arya Dwi Paramita.(sam)