SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Untuk meminimalisir kekerasan terhadap jurnalis, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bojonegoro  bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Surabaya, Jawa Timur serta yayasan TiFa melakukan kamapnye anti kekerasan. Mereka mendatangi kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) dan Kepolisian Resort (Polres) Bojonegoro, Kamis (22/11/2013).
Kedatangan AJI Bojonegoro ini tidak lain untuk meminimalisir kekerasan yang masih menghantui pekerja pers selama ini. Di Kejari Bojonegoro, beberapa perwakilan AJI Bojonegoro dari berbagai media di Bojonegoro disambut hangat oleh Kepala Kejari, Tugas Utoto beserta Kepala Seksi Intellijen Kejari, Nusirwan Syahrul.
Salah satu perwakilan AJI Bojonegoro, Anas A.G, menyampaikan kepada pihak Kejari, jika saat ini masih banyak terjadi kekerasan terhadap jurnalis yang juga rentan terjadi di Bojonegoro khususnya.
“Kita berharap ke depan dalam setiap kasus kekerasan terhadap wartawan diperhatikan juga Undang-undang pers,” ujar Anas.
Menanggapi audensi ini, Kajari Bojonegoro, Tugas Utoto juga siap membantu kalangan pers dalam keterbukaan informasi publik. Bahkan, ia berterima kasih kepada media yang membantu kinerja Kejari selama ini.
“Selama ini kerja kami juga terbantu oleh pemberitaan. Sebaliknya, kami juga siap membantu,” timpal Kajari.
Sementara, Wakapolres Bojonegoro, Kompol Aris Legowo, menyampaikan, bahwa kekerasan yang menimpa seorang Jurnalis itu merupakan kejadian yang tidak diinginkan.
“Ada suatu saat kondisi itu tidak bisa dikendalikan. Bisa jadi terkena imbas itu perbuatan yang tidak disengaja,” ujar Aris, menjelaskan.
Dia menegaskan, jika aksi kekerasan yang dilakukan satuannya kepada seorang Jurnalis sendiri merupakan tindakan oknum yang dilakukan diluar perintah. Selain itu tidak menutup kemungkinan kekerasan yang dilakukan itu juga unsur ketidak sengajaan.
“Makanya kalau bisa misalkan sedang melakukan peliputan didaerah konflik alangkah baiknya menggunakan rompi Pers, juga membawa tanda pengenal,” saran Aris.
Untuk diketahui, belum lama ini dua jurnalis di Tuban yakni Reporter Biro JTV Bojonegoro, Khusni Mubarok serta Jurnalis beritajatim.com, wilayah liputan Tuban, M Muthohar telah menjadi korban kekerasan oknum anggota Brimob Jatim saat melakukan peliputan kericuhan penonton di Konser D’Masiv di Alun-alun Tuban.(rien)