SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Terbatasnya pasokan solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) menjadikan para nelayan di wilayah Pantura Kabupaten Lamongan, Jawa Timur sulit melaut. Padahal pada November hingga Desember mendatang merupakan musim panen ikan bagi nelayan sebelum datangnya musim ‘baratan’ (badai besar).
Persoalan klasik yang senantiasa dihadapi ribuan nelayan Lamongan selalu berkutat pada kecilnya jatah solar. Namun, pemerintah terkesan menutup mata dengan kesulitan yang dirasakan sang pengarung bahari tersebut. Terbukti selama bertahun-tahun stok solar bagi nelayan tak pernah ditambah kuotanya.
Untuk lima SPBN di Tempat Pelalangan Ikan (TPI) Brondong, Pertamina hanya memberikan jatah 720 ribu liter per bulan. Sedangkan kebutuhan solar untuk perahu nelayan sebanyak 200 liter per hari untuk kapal besar, dan 30 liter per hari untuk perahu kecil. Sementara jumlah perahu di wilayah sebanyak 600 kapal besar dan ribuan kapal kecil.
Akibatnya, nelayan selalu harus berebut lebih awal untuk mendapatkan solar di SPBN. Apalagi SPBN tidak buka 24 jam layaknya SPBU umumnya. SPBN hanya buka pukul 7.00 WIB hinga 16.00 WIB.
Jika sudah demikian mereka terpaksa harus membeli ke SPBU di luar yang jaraknya bisa berkilo-kilometer dari perahu mereka bersandar.
“Lebih ribet beli solar di SPBU, Mas. Selain jarak tempuhnya lebih jauh, kapasitas pembelian juga dibatasi 30 liter. Itu pun antrinya juga lama karena yang lebih diutamakan kendaraan umum lainnya,†keluh Suparlan, salah seorang nelayan asal Desa Brengkok, Kecamatan Paciran.
Padahal di bulan November hingga Desember seharusnya menjadi musim panen ikan bagi nelayan karena cuacanya bagus sebelum musim baratan tiba.
“Saat-saat sekarang ini semua nelayan pada turun kelaut mas. Karena hasil tangkapan selalu besar, namun kendalanya ya itu mencari bahan bakar melautnya sangat sulit,†papar nelayan lainnya, Tasmaji.
Minimnya pasokan solar bagi nelayan diakui oleh operotor SPBN di TPI Brondong, Kecamatan Brondong, Arif Budi. TPI Brondong hanya mendapatkan jatah 720 liter per bulan.
“Jatah dari Pertamina yang kami terima sangat terbatas, Mas. Tidak pernah bisa memenuhi kebutuhan nelayan,†ujarnya.
Selain pasokan terbatas, lanjut dia, kapasitas di SPBN juga tak mampu melayani kebutuhan para nelayan.
“Kami hanya bisa melayani 50 persen kebutuhan nelayan,†sergah Arif.
Masalah klasik yang membelenggu para nelayan itu menjadikan kehidupan para nelayan jauh dari kemapanan.
“Seperti rhok-rhok asem, karena sulitnya mendapatkan solar. Bagaimana bisa hidup sejahtera kalau tidak bisa rutin melaut setiap hari ? “ tandas Bahri, nelayan lainnya.(tok)