SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Meningkatnya jumlah tenaga kerja (Naker) di proyek Banyuurip, Blok Cepu, menjadikan arus lalu lintas (Lalin) di jalan poros desa di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, juga meningkat. Kondisi ini menjadikan jalan poros desa di wilayah setempat rawan kecelakaan.
Sebab banyak naker proyek yang melalui jalan poros desa baik menggunkan kendaraan roda dua maupun empat. Apalagi saat mengendarai kendaraan mereka kurang memperhatikan aturan berlalu-lintas.
Dari pantauan di lapangan, titik rawan kecelakaan itu selain di jalan sementara warga dekat proyek kampung tunnel, juga di sepanjang jalan poros Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam. Tepatnya di pertigaan jalan dekat Lapangan Sepak Bola Desa Bonorejo.
Karena meningkatnya arus lalu lintas itu, belum lama ini telah terjadi kecelakaan di pertigaan jalan tersebut. Yakni antara warga dengan naker dari PT Swadaya Graha, salah satu subkontraktor yang mengerjakan proyek Banyuurip, Minggu (1/12/2013).
Warga Desa Bonorejo, Pujianto, mengungkapkan, pengguna jalan poros Desa Bonorejo kini semakin meningkat di bandingkan tahun lalu. Hal itu seiring dengan banyaknya naker proyek yang menggunakan jalan desa tersebut. Sehingga sering terjadi kecelakaan di jalan poros desa.
“Kemarin juga terjadi kecelakaan di pertigaan jalan Bonorejo yang dekat lapangan itu. Antara warga Mojodelik dengan Naker PT Swadaya Graha sekitar jam 12 siang ,” kata Pujianto kepada suarabanyuurip.com, Senin (02/12/2013).
Dia menjelaskan, kecelakaan itu terjadi akibat naker terlalu kencang dalam mengendarai sepeda motor saat hendak pulang kerja dari proyek. Saat melintas di jalan poros desa itulah seorang naker terlibat kecelakaan dengan warga.
“Saya tidak tau namanya yang kecelakaan itu, Mas. Tapi setahu saya naker yang kecelakaan itu kerja di Swadaya yang ikut mengerjakan proyek EPC 1. Kondisi warga Mojodelik lumayan parah karena kepalanya bocor,” ujar Pujianto, menjelaskan.
Tokoh masyarakat Desa Bonorejo itu menambahkan, sebelumnya pihaknya sudah sering mengingatkan kepada naker proyek Banyuurip agar tidak ugal-ugalan mengendarai motor saat melintas di jalan poros desa. Bahkan, pihaknya juga telah memberi masukan kepada kontraktor pelaksana proyek Eengineering, procurement and constructions (EPC) – 1 Banyuurip, PT Tripatra maupun EPC – 5, PT Hutama Karya.
“Saya juga pernah mengusulkan untuk diberikan flagmen disetiap titik rawan di jalan desa. Tujuannya, untuk ikut mengatur alur lalu-lintas agar bisa menekan terjadinya kecelakaan. Namun hingga saat ini usulan saya tidak diperhatikan,” imbuhnya.(sam)