SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- Sistem desalinasi (penyulingan air laut menjadi air tawar) untuk kebutuhan injeksi puncak produksi minyak Banyuurip, Blok Cepu, tidak jadi diterapkan. Karena sistim itu dinilai tidak efisien karena harus membangun jaring pipa dari Pantai Tuban sampai kelokasi waduk buatan di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
“Desalinasi tidak jadi diterapkan,” kata  anggota komisi VII DPR RI, SW Yudha kepada Suarabanyuurip.com.dia beberapa waktu lalu.
Menurut dia, untuk kebutuhan injeksi puncak produksi Banyuurip tetap akan menggunakan skenario lama. Yakni menggunakan air Bengawan Solo dengan catatan pengambilan air dilakukan saat kondisi air bengawan tinggi.
“Saya tanyakan ketika sidak beberapa waktu lalu katanya tidak jadi diterapkan,” tandas Yudha.
Dia menuturkan, kebutuhan injeksi untuk puncak produksi nantinya akan menggunakan dari waduk yang saat ini masih proses pengerjaan.
Bersamaan adanya proyek migas di Bojonegoro, pihaknya mewanti-wanti agar lingkungan juga dijaga kelestariannya.
“Adanya proyek migas juga berpotensi menimbulkan lahan kritis,” tuturnya.
Sebelumnya, wacana desalinasi santer terdengar. Proyek yang di usung PT. Meranggi itu sempat ditawarkan kepada BP Migas (sebelum berganti nama menjadi SKK Migas). Bahkan proyek itu juga sempat menjadi berdebatan baik di tingkat pusat maupun daerah.
Karena skenario awal yang ditawarkan adalah pengambilan air laut dilakukan dari Panati di Kabupaten Rembang, kemudian berubah dari Pantai di Kabupaten Tuban.(roz)