SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Keberadaan migas Blok Cepu telah banyak merubah pranata sosial masyarakat sekitar. Salah satu yang mencolok adalah budaya gotong-royong. Budaya warisan leluhur itu telah tergerus dengan adanya proyek Banyuurip dan budaya dari luar yang dibawa oleh para pendatang. Â
Di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, misalnya. Di salah satu desa ring 1 Lapangan Minyak Banyuurip, budaya gotong royong mulai sirna. Hal itu dikarenakan saat ini warga disana yang semula mayoritas bekerja sebagai petani, sekarang banyak yang bekerja di proyek.
Akibatnya, setiap kali ada warga mendirikan rumah selalu kesulitan untuk mencari tenaga. Kalaupun ada harus memberi upah berupa uang. Padahal, sebelumnya, tanpa dikomando, dengan suka rela mereka akan bergotong-royong membantu.
“Saat ini sulit sekali, Mas. Warga banyak yang sibuk kerja di proyek. Masuk pagi pulangnya sore. Sehingga, jika ingin minta sumbangan tenaganya sangat sulit,” kata Sumani, Warga Dukuh Puduk (Sukorejo), Desa Bonorejo, Minggu (8/12/2013).
Senada diungkapkan, Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan Desa Bonorejo, Warno. Dia menilai, banyak perubahan yang mendasar di tengah-tengah masyarakat dengan adanya proyek minyak Banyuurip. Baik itu perubahan positif maupun negatif.
Perubahan positifnya, kata Warno, pembangunan infrastruktur desa sekitar meningkat dibandingkan sebelumnya. Sedangkan, perubahan negatifnya, gaya hidup maupun pola berpikir masyarakat berubah, dan bahkan semangat gotong-royong diantara warga saat ini telah hilang.
“Dulu warga diajak gotong-royong mendirikan rumah, membajak sawah tanpa diberi uang hanya dikasi makan, minum ataupun bergantian sangat mudah. Kendati, sekarang ini sangat sulit. Jikapun mau tenaganya harus dihargai dengan nilai uang, Mas,” ungkap Warno menerangkan.
Dia mencontohan, bukti riil yang sudah dirasakan warga Bonorejo sekarang ini adalah sudah sulitnya mendapatkan sumbangan tenaga tetangga untuk sebuah keperluan seperti dulu.
“Semangat gotong-royong seakan sudah hilang dipemikiran warga. Bahkan yang ada saat ini hanyalah serba uang. Seakan sudah tidak kenal lagi satu dengan warga lainnya,” imbuh Warno.(sam)