SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pemilihan kepala desa (Pilkades) di daerah ladang minyak dan gas bumi (Migas) di Bojonegoro pada 2014 diprediksi bakal berlangsung sengit. Para kandidat Kades diperkirakan akan habis-habisan, mengeluarkan segala jurus strategi untuk memenangkan pertarungan demokrasi desa.
Situasi itu bisa dimafhumi karena fenomena yang muncul di permukaan, desa sekitar sumur minyak bakal berpotensi menjadi desa kaya. Tentunya jabatan orang nomor satu di pemerintahan desa, bakal ‘kecipratan’ berkah dari minyak yang dimuntahkan dari perut desanya.    Â
Oleh karena itu pula, sudah menjadi rahasia umum jika ingin menjabat kepala desa di desa sekitar sumur minyak, seperti Blok Cepu, harus punya modal yang kuat. Termasuk pula dukungan dari warga yang belakang cenderung berspektif duit, dalam setiap perhelatan Pilkades di wilayah Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya.
Â
Sebut saja Pilkades di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, desa Ring 1 sumur Banyuurip, Blok Cepu yang akan digelar pada 2 Februari 2014 mendatang. Data dari lapangan menyebutkan para calon kepala desa dikabarkan harus punya modal Rp800 juta hingga Rp1,5 miliar.
Dana sebesar itu dipakai untuk menarik simpati dan meminta dukungan kepada warga. Bentuknya berupa memberi makan dan minum kepada warga yang bertandang di rumahnya, hingga membayar tim khusus agar mempengaruhi pemegang hak pilih agar memilihnya.
Muhammad Novianto (27), salah satu warga Mojodelik menyatakan, sudah ada dua calon kepala desa yang akan bersaing pada Pilkades nanti. Yakni; Sandoyo, kepala desa yang kini masih menjabat, dan Yuni, salah seorang tokoh di desa yang teritorialnya terdapat sumur minyak Banyuurip.
Â
Dia katakan, kabar yang beredar di masyarakat waktu Pilkades Mojodelik tahun 2009 lalu, Pak Sandoyo maupun Pak Tomo habis dana ratusan juta rupiah. Pak Tomo yang orangtua dari Kandidat Kades Yuni, kalah dalam Pilkades tersebut.
Aan, panggilan Novianto, mengatakan, perebutan kursi Kades Mojodelik memang sengit. Bahkan, kata dia, ada kabar dari orang-orang di lapangan masing-masing kubu berani memberi uang Rp200.000 hingga Rp500.000 untuk pemegang hak pilih.
“Sekarang saja calon kepala desa sudah bersaing merebut simpati warga,†ungkap pemuda yang bekerja di salah satu perusahaan kontraktor migas tersebut.Â
Â
Tensi meninggi juga terasa dalam perebutan kursi Kades di Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro. Desa/Kecamatan Purwosari berada di daerah dekat sumur Tiung Biru yang dioperatori oleh Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 4.
Â
Pilkades Purwosari bakal digelar pada 9 Februari 2014 mendatang. Sudah ada beberapa calon kepala desa yang akan maju, diantaranya mantan Mantri Kesehatan, Harijanto. Dia bahkan sudah berkeliling mengunjungi rumah-rumah warga untuk meminta dukungan warga.
Â
Calon kepala desa, Harijanto, menyampaikan,  merasa terpanggil untuk memimpin dan memajukan Desa Purwosari.  “Saya sudah minta restu hampir sebagian warga Purwosari untuk maju sebagai kepala desa,†ujarnya.
Â
Pilkades di daerah penghasil migas memang akan diperebutkan. Desa Mojodelik misalnya setiap tahun dapat dana bagi hasil migas cukup besar. Dana bagi hasil migas yang diterima Desa Mojodelik pada 2012 misalnya mencapai Rp800 juta. Sedangkan, desa-desa lainnya di sekitar kawasan lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, dapat dana bagi hasil migas Rp600 juta. Selain itu, proyek-proyek migas yang ada di daerah penghasil itu memberikan pemasukan besar bagi desa.
Â
Data dari BPMPD, daerah penghasil atau dekat kawasan migas yakni Kecamatan Gayam, Ngasem, Kalitidu, Dander, Tambakrejo, Kapas, dan Purwosari. Enam desa di Kecamatan Gayam dan 10 desa di Kecamatan Kalitidu akan mengadakan pilkades pada 2 Februari 2014.
Sedangkan, tujuh desa di Kecamatan Purwosari, sepuluh desa di Kecamatan Ngasem, dan lima desa di Kecamatan Dander akan melaksanakan pilkades pada 9 Februari 2014. (rien)