GUMPALAN awan tebal mendekap mentari di sudut langit. Bagai terbelit selendang hitam, sinar Sang Bagaskara tak mampu beranjak. Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), desa ring satu proyek sumur minyak Banyuurip pun bagai berselimut kekelaman.
Sewarna raut wajah, Sayem. Perempuan paruh baya ini bagai kehilangan semangat hidup. Dalam kepasrahan tak bertepi berhias sendu. Gelegak kepahitan hidup karena  ketidakberdayaannya kian nampak, ketika melihat sawahnya hancur diterjang banjir dari luberan air hujan.
Dia bersama para petani di sana kian percaya, jika bencana yang menimpa mereka akibat saluran air sekitar proyek Engineering Procurement and Constructions (EPC)-5, Banyuurip yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Rekayasa Industri (Rekind) – PT Hutama Karya (HK) tak mampu mengalirkan air secara maksimal. Dampaknya pematang sawahnya hancur diterjang air hujan yang acap kali mengguyur area ladang migas Blok Cepu.
Kesedihan yang dirasakan Sayem, selain lahannya rusak tanaman yang mulai tumbuh, juga ikut mengalami rusak dan mati akibat tertimbun tanah. Melihat kondisinya sawah yang menjadi gantungan hidup keluarganya tak bakal bisa dipanen.
â€Kami sudah pasrah atas semua ujian ini. Berbagai upaya sudah kami lakukan. Berkali-kali pematang sawah yang rusak dibenahi. Namun, ketika hujan lebat, dan air menerjang juga kembali rusak, Pak,” ungkap Sayem kepada Suarabanyuurip.com di lokasi sawahnya.
Titik air bening pun mulai meleleh membasahi bilur wajahnya. Perlahan dia usap air mata dengan ujung kain bajunya. Kesedihan hati yang dia tahan makin mengguncang raganya yang mulai beranjak senja.Â
Wanita yang tinggal di RT 12, RW 03, Desa Mojodelik ini, tak jauh dari pengeboran Migas Blok Cepu yang dioperatori Mobil Cepu Ltd (MCL) itu, kemudian menceritakan ihwal rusaknya lahan pertanian milinya. Sejenak termenung, sorot matanya menerawang jauh. Bibirnya terlihat berat untuk memulai bercerita. Namun kemudian dia paksakan pula untuk berkisah.Â
â€Beberapa hari ini hujan lebat terus mengguyur sekitar proyek Banyuurip. Karena, tidak didukung dengan saluran air yang memadahi akibatnya ya seperti ini, Pak. Sawah saya rusak,†tuturnya membuka cerita.
Istri Sukadi ini mengaku, kerusakan lahan pertanian yang berada di timur lokasi EPC-5 telah dilaporkan kepada perangkat Desa Mojodelik. Mereka meminta para Pamong Desa mencarikan solusi atas musibah tersebut.
â€Sudah langsung kami laporkan perangkat untuk dicarikan jalan keluarnya. Agar, kedepan kerusakan sawah yang saya miliki tidak bertambah parah,” lanjut dia.
Menurut salah satu perangkat Desa Mojodelik, Sucipto, sedikitnya ada sekira satu hektar lahan pertanian di sekitar EPC-5 hancur diterjang air hujan. Baik lahan yang sudah ditanami padi, jagung, maupun yang belum ditanami.
“Lahan warga yang rusak itu salah satunya adalah, milik Sayem istri pak Sukadi, dan lahan pertaniannya berada di sebelah timur EPC-5, Mas,” kata pria yang menjabat sebagai Jagabaya itu saat dikonfrontir secara terpisah.
Dia jelaskan, tak hanya lahan pertanian milik warga. Namun, air yang meluber tak terkendali itu juga menghancurkan lahan bengkok perangkat desa, dan tanah kas desa juga ikut hancur diterjang air hujan.
“Sesuai laporan, rencananya warga mau minta ganti rugi, dan meminta kepada perusahaan membenahi saluran air yang ada secara maksimal. Agar, terjangan air kedepannya tidak lebih memperparah kerusakan lahan pertanian warga di sekitar proyek Blok Cepu tersebut,” jelasnya.
Sucipto menambahan, selain dilaporkan kepada kontraktor pelaksana EPC-5, kejadian yang membuat petani merugi itu juga disampaikan langsung kepada MCL.
“Alhamdulillah lokasinya sudah dicek oleh MCL. Hasil keputusannya seperti apa, masih dalam proses perundingan, Mas,” imbuhnya menerangkan. (Samian Sasongko)