Ramadan di Balik Jeruji: Dari 2.000 Ekor Bebek, WBP Lapas Bojonegoro Menemukan Harapan Baru ‎

Rahmad
HARAPAN BARU: Rahmad di kandang ternak bebek SAE LBIC Lapas Bojonegoro.(arifin jauhari)

Kisah Rahmad, WBP Lapas Kelas IIA Bojonegoro menjadi cerminan makna Ramadan yang sesungguhnya, tentang harapan tak pernah benar-benar padam.

PAGI ITU, embun masih menggantung tipis di atas hamparan lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Bojonegoro Integrated Center (LBIC). Di atas tanah seluas 23,7 hektare itu, suara ribuan bebek bersahutan, memecah sunyi yang biasanya identik dengan tembok tinggi dan jeruji besi.

‎Di antara riuh itu, Rahmad Wahyuono, seorang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Bojonegoro, tampak sigap menebar pakan. Mengenakan kaus lengan panjang, ia menyusuri kandang demi kandang, memastikan sekitar 2.000 ekor bebek yang dirawatnya bersama petugas dan rekan-rekan WBP lainnya mendapatkan asupan yang cukup.

‎Ramadan tahun ini menjadi babak yang berbeda dalam hidupnya. Jika dahulu hari-harinya terasa berjalan tanpa arah, kini justru di balik jeruji ia menemukan makna baru tentang disiplin, tanggung jawab, dan harapan. Setiap pagi dan sore, Rahmad membersihkan kandang, mengecek ketersediaan air minum, serta menghitung kebutuhan pakan dengan cermat.

‎“Awalnya saya tidak tahu apa-apa soal beternak,” ucap Rahmad pelan.

‎Warga binaan yang masih relatif muda ini mengaku, waktu dan proses pembinaan mengubah banyak hal. Ia belajar memahami siklus pemeliharaan, memperkirakan hasil ternak, hingga menghitung efisiensi pakan. Pengetahuan yang dulu terasa asing kini menjadi bekal berharga untuk masa depannya.

‎“Sekarang saya jadi paham cara merawat, menghitung kebutuhan pakan, sampai memperkirakan hasilnya. Saya ingin nanti setelah bebas bisa buka usaha kecil di kampung,” ungkap Rahmad dengan mata berbinar.

Baca Juga :   Inilah 25 Perusahaan Tuban Zero Accident di 2018
Rahmad
Rahmad bersama rekan WBP dan petugas Lapas Bojonegoro memelihara 2.000 ekor bebek.(ist/riyan)

‎Bulan suci Ramadan, yang identik dengan perenungan dan perbaikan diri, menjadi titik balik bagi pria muda itu. Di tengah ibadah puasa, ia tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga belajar menata ulang hidupnya. Suara bebek-bebek yang dahulu sekadar riuh ternak, kini menjadi pengingat bahwa selalu ada kesempatan kedua.

‎Kawasan SAE LBIC memang dirancang sebagai ruang pembelajaran kemandirian. Selain peternakan bebek, lahan tersebut dimanfaatkan untuk budidaya padi, kangkung, jagung, dan kacang. Tersedia pula kolam pemancingan sebagai sarana pelatihan pengelolaan perikanan sederhana. Seluruh aktivitas ini menjadi bagian dari program pembinaan yang menekankan keterampilan produktif bagi warga binaan.

‎Dari 2.000 ekor bebek yang dirawat setiap hari, Rahmad tidak hanya memelihara ternak. Ia sedang menumbuhkan keyakinan bahwa masa depan tetap bisa diraih, betapa pun kelam masa lalu yang pernah dilalui. Kisah Rahmad menjadi cerminan makna Ramadan yang sesungguhnya, tentang harapan itu ternyata tak pernah benar-benar padam.

‎“Saya ingin pulang dengan membawa perubahan. Minimal, orang tua saya melihat saya sudah belajar jadi lebih baik,” ucapnya lirih.

‎Kepala Lapas Bojonegoro, Hari Winarca, mengatakan, bahwa program tersebut memang bertujuan membekali warga binaan dengan kemampuan nyata sebelum kembali ke masyarakat. Melalui kegiatan peternakan dan pertanian.

‎“Ramadan menjadi momentum pembinaan mental sekaligus kemandirian, agar setelah bebas mereka siap hidup mandiri,” kata Hari Winarca kepada Suarabanyuurip.com.

‎Di balik tembok tinggi Lapas Bojonegoro, kata kawan sekelas penyanyi beken Ahmad Dani ini, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia menjelma menjadi ruang belajar, ruang tumbuh, sekaligus ruang harapan.

‎”Setiap insan, sekelam apa pun masa lalunya, tetap berhak menata masa depan,” tandas Hari.(arifin jauhari)

Pos terkait