Perajin Kayu Jati Sekitar Sukowati Keluhkan Pemasaran

SuaraBanyuurip.comJarwati

Bojonegoro  – Kerajinan kayu jati kuno dan limbah kayu jati yang dikelola UD Aji Kencana Art di Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur,  memiliki nilai seni tinggi. Usaha di desa Ring 1 Lapangan Migas Sukowati yang sudah berdiri pada tahun 2000  tersebut masih mampu bertahan hingga sekarang, meski mengalami kendala dalam pemasaran.

Dari pantauan SuaraBanyuurip.com di lokasi, para perajin yang dipekerjakan oleh UD Aji Kencana Art terlihat sibuk mengerjakan berbagai bentuk dan jenis kerajinan yang  terbuat dari limah dah kayu
jati kuno.

Pemilik UD Aji Kencana Art, Yoppy Irawan, mengaku, tetap melakukan produksi meski saat ini pasar sedang lesu. Pertimbangnya jika produksi dihentikan dan hanya membuat ketika ada pesanan, maka dirinya akan kesulitan mencari pengrajin.

“Pokoknya hari-hari ini pasar usaha di bidang yang kami tekuni ini  sangat sepi. Jarang ada pesanan, apa lagi langsung membeli hampir tidak ada. Tetapi yang bekerja tidak dapat kami hentikan, karena nanti
kami akan kesulitan mencari kalau ada pesanan,” ungkap Yoppy.

Baca Juga :   BKPP Bojonegoro Umumkan Peserta CPNS Lolos SKD 2024

Untuk jenis-jenis kerajinan yang produksi UD Aji Kencana Art meliputi rumah panggung, rumah joglo, meja, kursi, ranjang pengantin, gazeb, dan sebagainya. Harga yang ditawarkan mulai dari ratusan ribu sampai ratusan juta.

Dalam produksinya, UD Aji Kencana Art menggunakan bahan yang ramah lingkungan, dan tidak merusak alam. Yakni berupa akar pohon jati dari limbah yang sudah tidak begitu dimanfaatkan masyarakat, dan kayu jati dari bangunan rumah kuno yang dijual pemiliknya.

“Kami mendapatkan semua bahan tersebut tetap berasal dari Kabupaten  Bojonegoro sendiri. Seperti Kecamatan Ngasem, Margomulyo, Ngraho, dan lain-lain,” ucap Yoppi, mengungkapkan.

Namun usaha yang dijalan UD Aji Kencana Art saat ini masih mengalami kendala pemasaran yang belum bisa dia atasi. Sehingga diharapkan adanya bantuan pemerintah untuk memasarkan produk-produk usaha kreatif warga Bojonegoro.

“Selama ini kami merasa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro belum memberikan perhatian kepada usaha kami ini. Padahal kami tidak meminta bantuan modal,” kata Yoppy.

Sementara saat ditanya mengenai omset setiap bulan dari usaha yang ditekuni, Yoppy mengaku tidak bisa memastikan berapa omset yang diterimanya.

Baca Juga :   4.000 Korban Banjir Demo Bupati Tuban

“Penjualan dalam satu bulannya tidak mesti, jadi omset kami  tidak dapat dipastikan, malahan kadang-kadang kami mengalami kerugian,” tegasnya. (ati)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *