SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kontraktor lokal yang berdomisili di sekitar proyek pembangunan jembatan layang (fly over) lapangan Banyuurip, Blok Cepu di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengeluh karena tidak dilibatkan dalam proyek negara tersebut.
Direktur Utama CV Putra Mojodelik, Seno (35), mengatakan, pembangunan jembatan layang tersebut masuk wilayah Desa Ngraho, bahkan kini memasuki tahap penancapan kaki-kaki beton penyangga jembatan dan pembangunan jalur.
“Tapi kami sebagai putra daerah malah tidak dilibatkan,” tandasnya, Jumat (3/1/2014).
Dia menjelaskan, proyek pembangunan jembatan layang itu dikerjakan oleh PT Rekayasa Industri-Hutama Karya kontraktor EPC 5 dari Mobil Cepu Ltd (MCL) operator lapangan Banyuurip, Blok Cepu.
Menurutnya, informasi yang didapat jalur pengangkutan minyak mentah nantinya akan melewati Desa Bonorejo hingga Desa Ngraho. Proyek jembatan layang itu juga persis berada di jalur Bojonegoro-Cepu. Namun, jalur khusus untuk pengangkutan minyak mentah dari lapangan Banyuurip dibuat sendiri.
“Jalur pengangkutan minyak itu melewati areal persawahan sepanjang puluhan kilometer,” imbuhnya.
 Â
Seno mengatakan, warga Desa Ngraho tidak suka melakukan demo untuk mendesakkan keinginannya terlibat dalam proyek minyak dan gas bumi (migas). Akan tetapi sejauh ini pihak kontraktor pelaksana yakni PT Rekind-Hutama Karya tidak mau mengerti keinginan warga.
Â
“Masa kami harus demo dulu untuk mendapatkan pekerjaan di proyek itu. Cara seperti itu rasanya kurang pantas,†ungkapnya.
Â
Pria asli desa Ngraho ini menyatakan, sesuai Perda 23 tahun 2011 semestinya perusahaan kontraktor pelaksana proyek harus menggandeng perusahaan rekanan lokal.
Â
Pantauan di lapangan, pekerja proyek pembangunan jembatan layang itu berjumlah ratusan orang. Di antara pekerja sekitar 30 orang berasal dari Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam. Mereka dipekerjakan oleh CV Sinergi Bangun Sarana yang berkantor di Desa Bonorejo.
Â
Sementara itu, Supervisor CV Sinergi Bangun Sarana, Hanafi, mengatakan, pekerja yang terlibat dalam proyek pembangunan jembatan layang berjumlah 30 orang. Semuanya warga Desa Bonorejo.
“Kami mendapatkan tender untuk membuat pagar pembatas jembatan layang. Sedangkan, untuk pembangunan utama yakni pemasangan konstruksi beton kaki jembatan dan lainnya dikerjakan oleh PT Rekind-HK,†ujarnya.
Â
Dia menuturkan, para pekerja baru mulai bekerja membuat pagar pembatas jembatan selama sepekan ini. Para pekerja itu diupah harian yakni per hari Rp50.000.
“Para pekerja ini mulai bekerja pukul 08.00 WIB dan selesai pukul 15.30 WIB,†ujarnya.(rien)