SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Nelayan dari sejumlah desa pesisir yang ada di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, memperkirakan lalu lintas perairan utara akan berubah seiring dengan dimulainya proyek penanaman pipa bawah laut yang akan dilakukan Operator Minyak dan Gas Bumi (Migas) Blok Cepu, Mobil, Cepu Limited (MCL) yang saat ini sudah masuk dalam tahap sosialisasi, Jum’at (3/1/2014).
Perubahan itu dikarenakan nelayan biasa menjadikan perairan yang ada ditempat tersebut sebagai jalur lintasan. Baik itu ketika akan berangkat melaut ataupun mendarat.
Namun setelah penanaman pipa dilakukan, secara otomatis wilayah itu menjadi titik larangan lintasan. Sehingga nelayan harus mencari jalur lain supaya bisa mendaratkan perahunya guna menghindari area tersebut.
“Di laut tidak sama dengan kendaraan di darat, karena kita tidak bisa begitu saja memutar atau membelokkan perahu,†kata Yadi (34), salah satu nelayan yang ditemui di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Palang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.
Lebih parahnya lagi, menurut dia, apabila cuaca buruk. Itu bisa menjadikan nelayan tidak bisa mendaratkan perahunya ditempat tersebut. Karena mereka harus menyesuaikan dengan arus ombak ataupun angin supaya perahu tidak terbalik.
“Arah angin dan arus ombak sangat berpengaruh juga,†kata Arno, nelayan lain yang berasal dari Desa Kradenan, Kecamatan Palang.
Diketahui, proyek penanaman pipa bawah laut dari salah satu sudut bibir pantai yang ada di Desa Glodog, Kecamatan Palang hingga sepanjang 23 kilometer (KM) menuju laut lepas saat ini dikabarkan sudah masuk dalam tahap sosialisasi.
Field Public And Government Affairs Manager MCL, Rexy Mawardijaya, belum menjawab konfirmasi dari SuaraBanyuurip.com mengenai kapan kepastian proyek tersebut akan dilakukan.(edp)