SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Selain harga naik, kelangkaan Liquified Petroleum Gas (LPG) mulai dirasakan warga sekitar lokasi ladang migas Alas Tua Barat (ATW) di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa-Timur sejak awal Januari 2014 lalu.
Seorang warga Desa Ngasem, Nyamidi, mengaku, kesulitan untuk mendapatkan LPG tak hanya dirasakan oleh pedagang saja. Namun, juga dirasakan warga yang setiap harinya memanfaatkan LPG untuk memasak di dapur.
“Sudah ada sekira satu mingguan warga mengeluhkan langkanya LPG. Karena, pengepul LPG yang ada di Ngasem sering telat, Pak,” keluh Nyamidi kepada Suarabanyuurip.com, Minggu (05/01/2014).
Warga Desa Ngasem lain, Purwohadi, mengatakan, untuk ukuran LPG 3 Kg memang sudah sulit didapat warga. Jikapun ada tidak mencukupi jatah warga yang membutuhkannya. Semisal, biasanya total pemanfaat 100 ternyata LPG nya ada di pengepul hanya 30-50 tabung.
“Harga LPG 3 kg masih tetap Rp15.000. Yang naik yang isi 12 Kg semula harganya sekira Rp70.000 sekarang menjadi sekira Rp135.000. Karena mahal saya menggunaan yang 3 Kg saja untuk berjualan. Meskipun kondisinya sekarang telat,” kata pria yang setiap harinya berjualan kopi dan makanan ringan di dekat perempatan Ngasem tersebut.
Dia berharap, pemerintah segera mengambil tindakan agar kelangkaan dan kenaikan harga LPG tersebut bisa diantisipasi. Sehingga, baik pedangang maupun yang lainnya segera mendapatkan LPG yang dibutuhkannya.
“Kalau kenaikan dan kelangkaan kebutuhan LPG tidak segera diantisipasi, saya khawatir dan mengindikasikan dari tabung LPG 3 kg di masukan ke tabung LPG berukuran 12 kg bagi orang tidak bertanggung jawab untuk mengambil keuntungan. Karena harganya naik,” imbuhnya.(sam)