Warga Pinggiran Hutan Tak Bingung

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Kenaikan harga Liquified Petroleum Gas (LPG) ukuran 12 kilogram (Kg)  dari Rp70.500 menjadi menjadi Rp127.500,dan kelangkaan LPG 3 Kg sejak awal bulan Januari 2014 lalu tak berpengaruh terhadap warga yang berdomisili dipinggiran hutan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.  Sebab LPG bukanlah kebutuhan utama untuk rumah tangga karena mereka sudah terbiasa menggunakan kayu bakar (dari ranting-ranting pohon) yang diambil dari hutan.

Warga Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Kanthi, mengatakan, walaupun harga LPG terus mengalami kenaikan sejak awal konversi dari minyak tanah ke gas LPG tidak menjadikan sebagaian warga bingung untuk mengeluarkan uang banyak guna memasak.

“Langka ataupun naik tidaknya LPG tidak terlalu ngefek, Pak. Bahkan, tidak ada LPG pun bagi keluarga saya juga tidak jadi soal. Karena sejak dulu saya memasak maupun lainnya sudah terbiasa menggunakan kayu bakar. Ya maklum orang pinggiran hutan, Pak,” kata Kanthi kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (06/01/2013).

Dia menjelaskan, berkaitan LPG tidak keseluruhan warga pinggir hutan menggunakannya. Bahkan, ada warga yang masih takut memakainya.

Baca Juga :   Perahu Kuno Penuh Misteri Mulai Terangkat

“Sering adanya berita kebakaran karena meldekanya tabung LPG menjadikan sebagian warga juga enggan menggunakan LPG saat memasak,” ujar Kanthi, menerangkan.

Sementara itu, warga Desa Butoh lain, Suradi, menyampaikan, meski sebagian warga tak risau dengan adanya kenaikan maupun kelangkaan LPG. Namun dengan naiknya LPG ukuran 12 kg ini membuat beban warga yang mengkonsumsi gas untuk kebutuhan memasak menjadi meningkat. Utamanya bagi pedagang dan warga yang tinggalnya jauh dari hutan.

“Sebenarnya, kenaikan itupun tidak masalah. Lagian yang dinaikan itu kan yang non subsidi bukan yang subsidi. Tetapi, seyogyanya sebelum dinaikan minimal ada sosialisasi dulu. Agar tidak menimbulkan gejolak bagi warga,” ungkapnya.

Dia juga menyarankan, jika ada kenaikan harga LPG yang non subsidi pemerintah seharusnya juga melakukan pengawasan secara ketat. Agar tidak dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab untuk mengambil keuntungan atas kenaikan harga LPG ukuran 12 kg. Misalnya mengoplos LPG 3 kg ke tabung 12 kg.

“Saya pribadi menyadari jika LPG yang non subsidi dinaikan. Karena jika tidak dinaikan mungkin saja Pertamina akan rugi. Imbasnya dari kerugian itu pastinya juga akan ke negara pula, Mas,” tandas bapak satu anak ini.(sam)

Baca Juga :   Pemkab Lamongan Responsif Terhadap Berita

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *