Operator Diharapkan Gandeng Disnakkan

subekti

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengaku belum pernah sekalipun  diajak koordinasi oleh operator minyak dan gas (Migas) seperti Mobil Cepu Limited (MCL), operator Lapangan Banyuurip Blok Cepu,Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ), operator Lapangan Sukowati Blok Tuban, dan Pertamina EP Asset 4, operator Sumur Tiung Biru, dalam melaksanakan program pengembangan masyarakat di wilayah operasinya.

“Sejak saya menjabat 2013 lalu hingga sekarang belum ada satupun pihak operator maupun desa di ring-ring pemboran yang menggandeng Disnakkan,” tegas Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, Subekti kepada suarabanyuurip.com, Senin (13/1/2014).

Dia menyampaikan, dalam melaksanakan program corporate social responsibility (CSR) kepada masyarakat berupa ternak maupun budidaya ikan akan lebih baik jika operator menggandeng Disnakan. Alasannya Disnakan lebih memahami secara tekhnis, meskipun ada beberapa kelompok yang menaungi keberadaan peternak tersebut.

“Apalagi di wilayah pertambangan, masyarakat perlu pembinaan,” tandasnya.

Subekti menyatakan, Pemkab memang tidak memiliki wewenang meminta operator untuk menjadikan mitra dalam pengelolaan program CSR. Akan tetapi, alangkah baiknya tetap dilibatkan  sebagai tumpuan masyarakat nantinya.

Baca Juga :   MCL Peduli Kekeringan di Bojonegoro

“Kalau masyarakat ada kendala kami pasti akan membantu, karena secara tehknis ada di Disnakkan,” tegas mantan Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro itu.

Subekti menyarankan,  apabila ada kerjasama dengan Disnakkan dalam mengelola program CSR terlebih dahulu harus ada Musyawarah rencana pembangunan desa. Sehingga pelaksanaannya bisa berkelanjutan dan tertata.

“Kebanyakan mereka dibiarkan tanpa ada pendampingan, jadi ya banyak warga yang gagal menjadi peternak,” imbuhnya.

Sementara itu, warga Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Suwarno (55), mengaku, pernah mendapatkan bantuan kambing dari JOB P-PEJ untuk dikembangbiakkan. Tetapi, karena kurang memahami bagaimana beternak yang baik akhirnya dia gagal menjadi peternak sukses.

“Dulu dikasih sepasang kambing jantan dan betina. Tapi saat melahirkan anak banyak yang mati,” sambung Suwarno, mengungkapkan.

Karena masih minimnya sumber daya manusia (SDM) tentang peternakan, warga ring 1 Pad B Sumur Sukowati itu akhirnya menjual kambing yang tersisa. Kini Suwarno menjalani profesinya sebagai tukang becak dan buruh serabutan.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   Dewan Jadwalkan Panggil PEP Aset 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *