Setelah puluhan tahun mati suri Ketoprak Kridho Madyo Budhoyo dibangunkan. Seni tradisi yang disentuh Pertamina EP ini mengiringi kebangkitan Migas di Blora.
MOMEN ulang tahun ke 56 PT Pertamina (Persero) yang dihelat PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP), di wilayah Blok Gundih yang masuk Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Kabupaten Blora, Jawa Tengah memiliki arti tersendiri bagi daerah penghasil minyak dan gas bumi (Migas). Termasuk pula warga Blora yang selama ini berharap ikut mencicipi manisnya hasil alam tak tergantikan tersebut.  Â
Prosesi hari jadi BUMN tersebut kian menguatkan keyakinan warga Blora, bahwa daerahnya potensi Migas tak lagi diragukan. Hal itu ditandai pula oleh peresmian Central Processing Plant (CPP) Blok Gundih untuk Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ), di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan yang dipimpin oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan.
Lebih dari itu warga mencatat Pertamina EP telah memberi ruang bagi kelestarian seni tradisional, Ketoprak. Seni tradisi ini sudah bertahun-tahun hanya pentas di setiap kegiatan ritual sedekah bumi. Di tangan Pertamina EP seni Ketoprak Kridho Madyo Budhoyo dari Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, Blora telah beranjak ke pementasan modern.
Ketoprak Kridho Madyo Budhoyo, warga setempat menyebut Ketoprak Wado, kini memang tak sekadar seni tradisi. Kelompok seni yang dipimpin oleh Kepala Desa (Kades) Wado, Kasdi, ini murni beranggotakan warga desa sekitar Blok Gundih. Pemainnya selain para perangkat Desa Wado juga para petani setempat.
Disaat perayaan hari jadi Pertamina itu, ketoprak ini pentas di hadapan para pejabat Pertamina. Baik itu saat manggung di Gedung Serba Guna Desa Wado, maupun di Dusun Jompong, Desa Sumber, tempat PPGJ Blok Gundih berdiri.  Â
“Itu kebanggaan tersendiri bagi kami yang sudah menjadi ketoprak binaan langsung dari Pertamina EP,” ujar Kasdi, Ketua Ketoprak Kridho Madyo Budhoyo.
Kades dua periode di Wado ini mengaku, sangat berterima kasih kepada Pertamina EP yang telah mensupport ketopraknya hingga kini bisa berkembang pesat. Meski ketoprak ini baru dirikan di tahun 2012 kemarin, namun sudah diberi kepercayaan tampil diberbagai even  yang digelar oleh Pertamina.
Beberapa bulan sebelumnya ketoprak ini diundang pentas di Jakarta oleh Pertamina. Mereka pentas di gedung Petamina pusat dalam rangkaian acara ulang tahun perusahaan pula. “Itu suatu kebanggaan bagi kami,” terangnya.
Terpikatnya Pertamina EP terhadap Kridho Madyo Budhoyo bermula ketika ketoprak ini pentas sedekah bumi di balai desa setempat. Perwakilan Pertamina EP yang hadir dalam kegiatan tersebut melihat kelompok seni ini membawa kearifan lokal yang sangat kuat. Apalagi dalam pementasan tersebut dipadati penonton dari desa-desa sekitarnya.
Sejak itu pula ketoprak dibina oleh Pertamina EP, dengan harapan budaya lokal ini bisa tumbuh dan berkembang melalui pementasan yang digelarnya.
“Makanya bisa menjadi ketoprak binaan hingga saat ini,” ujar Kasdi yang dalam pementasan sering menyajikan alur cerita asal usul suatu daerah.
Dia akui, kesenian ketoprak di Wado sudah puluhan tahun lalu mati suri. Meski setiap acara sedekah bumi selalu menampilkan ketoprak, namun bukan dari ketorprak Wado tapi mengundang ketoprak dari desa lain. Wajar karena seni ketoprak di desa-desa di Kabupaten Blora masih menjadi bagian tak terpisahkan dari warga.
Berawal dari itulah, setahun yang lalu, Kasdi mengumpulkan para seniman ketoprak di desanya yang mayoritas perangkat desa untuk menghidupkan kembali ketoprak yang telah lama mati. Akhirnya munculah ide di sedekah bumi semua perangkat desa untuk tampil ngetoprak.
“Saya yakinkan warga, saya sendiri yang memimpinnya. Ternyata antusias masyarakat untuk melihat sangat luar biasa. Hal itu menjadi motivasi tersendiri bagi kami untuk uri-uri atau melestarikan kesenian yang merakyat ini,” jelasnya sambil tersenyum.
Pentas seperti menjadi tak terpisahkan. Apalagi setiap Pertamina EP memiliki kegiatan publik, ketoprak dari Wado ini sering disertakan tampil. Tentunya juga dalam kegiatan ritual sedekah bumi di desanya maupun desa lain.
Keberhasilan disetiap pementasan tidak lepas dari kreativitas, Sutrisno, pelatih ketoprak. Seperti dalam pementasan di Gedung Serba Guna Wado dalam acara rangkaian HUT Pertamina petengahan Desember 2013 lalu.
Lakon yang diambil dari kisah Kesultanan Mataram, Agung Hanyokro Kusumo, mampu menyita perhatian publik. Termasuk tamu undangan dari Pertamina EP.
Sedangkan Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Wado, Irchamni Setya Budi, narator adegan ketoprak yang akan ditampilkan menyampaikan, dalam pembuatan narasi harus memahami latar sejarah cerita yang dimainkan. Baru kemudian dikombinasikan dengan realita, fakta, dan cerita, sehingga semua tetap dalam kemasan sastra budaya.
Bagi Irchamni, ketoprak punya peranan penting bagi masyarakat Wado. “Selain memberikan hiburan dan penerangan. Ketoprak juga bisa menjadi wahana belajar hal ihwal kehidupan.â€
Sementara itu saat acara Panggung Hiburan Rakyat, termasuk rangkaian acara peresmian CPP Gundih yang dihelat Pertamina EP di Desa Sumber, Kridho Madyo Budhoyo melansir cerita Babat Tanah Sumber. Lakon ini menceritakan tentang asal usul desa tempat keberadaan PPGJ. Sisi edukasinya menjadikan masyarakat paham asal mula desanya.Â
Kali ini bukan hanya berkolaborasi dengan para seniman ketoprak profesional dari beberapa kelompok ketoprak yang ada di Blora, namun juga menampilkan pelawak papan atas di tanah air, Topan. Mereka berbaur dalam berkesenian tradisi yang dipimpin Kades Wado, Kasdi.
“Suasana menjadi semakin meriah mampu menghibur masyarakat kami,” kata Kades Sumber, Zaki Bachroni, saat ditemui usai pementasan.
Kepedulian Pertamina EP terhadap keberadaan ketoprak, menurut Zaki, mampu membangkitkan seni tradisi yang membumi di kalangan warga pedesaan di Blora. Bahkan, membangkitkan semangat berkesenian para pelakunya agar tidak tenggelam berlarut-larut.
“Kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian Pertamina ikut serta nguri-uri  budaya Jawa, khususnya ketoprak,” kata Zaki.
Di Sumber juga banyak seniman dari beberapa kesenian daerah lokal. Seperti; ketoprak, karawitan, maupun seni barongan. Oleh karena itu, momen pertunjukan ketoprak Wado ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan para penggiat seni di desanya.
“Pentas ketoprak ini merupakan langkah awal langkah saya untuk menggali potensi berkesenian. Ke depan akan kita giatkan kembali grup ketoprak di Sumber,” imbuh Zaki.
Support Pertamina patut mendapat apresiasi yang mendalam. Apalagi akhir-akhir ini pertunjukan ketoprak di wilayah Blora kian meredup. Namun, dengan kepedulian Pertamina EP ini membuat para pelaku seni ketoprak punya harapan untuk bisa berkembang lagi.
Terpikatnya Pertamina EP terhadap Kridho Madyo Budhoyo bermula ketika ketoprak ini pentas sedekah bumi di balai desa. Pertamina EP Â yang hadir dalam kegiatan bersama jajaran humasnya dan PPGJ, menangkap kelompok seni ini bisa menjadi wahana sosialisasi dari program pemerintah. Apalagi dalam pementasan tersebut dipadati penonton dari desa.
“Pertamina EP senantiasa memperhatikan dan berupaya untuk turut menjaga kearifan budaya lokal yang ada di sekitar daerah operasi perusahaan.  Inisiatif yang dilakukan Pertamina EP dalam mendukung infrastruktur dan pementasan ketoprak di sekitar proyek pengembangan gas Jawa ini, merupakan bagian dari komunikasi perusahaan kepada masyarakat, sekaligus upaya melestarikan warisan budaya leluhur,†kata Manager Legal and Relation Pertamina EP Asset 4, Arya Dwi Paramita, secara terpisah. (ali musthofa)