SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan –  Alat transportasi delman masih menjadi pilihan bagi sebagian orang. Di Desa Sidomukti, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, warga masih banyak menggunakan delman, meski  sekarang kendaraan angkutan tak jarang.
Di wilayah itu sedikitnya terdapat 20 delman yang setiap hari mangkal di perempatan jalan Sidomukt i- Labuhan. Puluhan delman itu beroperasi dari pukul 06.00 WIB hingga 16.00 WIB. Mereka mengangkut nelayan dan para penjual ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) Labuhan.
Salah satu kusir delman, Sopyan (56), mengatakan, keberadaan delman sudah ada sejak jaman awal kemerdekaan. Â Mereka mengangkut nelayan yang pulang pergi miyang (mencari ikan dilaut) atau mengangkut para pedagang ikan.
“Tarifnya murah, hanya Rp 3000 perorang dengan bawaannya sampai ke TPI Labuhan,“ ujar Sopyan.
Dia mengaku per hari bisa mengantongi uang antara Rp 40 ribu -Rp 50 ribu. Jarak antara pangkalan delman dengan TPI Labuhan sekira 3 kilometer (KM).
Keberadaan delman itu memiliki pelanggan tersendiri. Sehingga tidak akan bisa disaingi atau digantikan tukang ojek. Apalagi dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) saat ini, tentu akan menjadikan tukang ojek merug.
“Tukang ojeknya ndak akan laku karena tarifnya mahal, selain juga tidak bisa membawa barang penumpang,†ujarnya.
“Kalau jadi sais dokar enak. Ndak usah beli bensin yang harganya mahal. Cukup ngarit sendiri untuk pakan kuda,†pungkas Sopyan. (tok)