Siapapun tak mau menderita sakit. Pula balita Izzam yang dililit penyempitan usus 12 jari dan TB Paru.
DI rumah sederhana di Desa Sekaran, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Izzam Kustiyo Al Tamis, tertidur lelap di pangkuan ibunya. Sesekali tubuh kurus bocah berumur 2 tahun ini tersentak saat batuk menderanya.
Sang ibu, Winarti (30), buru-buru mengusap-usap lembut dahi anaknya. Â Tak lama kemudian Izzam, begitu keluarga ini memanggil sang buah hati, kembali terlelap.
Keceriaan laiknya balita umumnya tak pernah dirasakan Izzam. Di sepanjang usianya balita berkulit bersih itu, harus bergulat dengan rasa sakit dari penyakit yang menderanya sejak lahir.
“Penyakitnya sudah dirasakan Izzam sejak usia tiga hari dilahirkan. Setiap disusui ASI selalu muntah,†kata Winarti, lirih. “Anaknya tidak pernah Buang Air Besar (BAB), sekujur tubuhnya juga menguning “ kata ibu muda bertubuh kerempeng ini memulai kisah hidup Izzam kepada SuaraBanyuurip.com, Sabtu (25/1/2014).
Izzam adalah putra keduanya buah pernikahannya dengan, Arif Nur Faizin (36). Putra pertama, Lulu’ah Mireyell (8 tahun), saat ini duduk di bangku kelas 2 SD.
Dulu setelah diperiksakan ke bidan desa, Izzam langsung dirujuk ke Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan. Selama 10 hari anak yang saat lahir dengan berat tubuh 2.500 gram itu, mendapatkan perawatan di RS. Namun ternyata RS swasta terbesar di Lamongan tersebut, tidak bisa menangani penyakitnya. Disarankan agar Izzam dibawa ke RS Dr Soetomo Surabaya.
“Kata dokternya, Izzam menderita penyakit penyempitan usus 12 jari, dan harus segera dilarikan ke RS Dr Soetomo,“ kata Winarti.
Setelah mendapatkan penangangan dari dokter RS Dr Soetomo, Winarti langsung shock begitu dikabari, untuk menyelamatkan nyawa anaknya harus dilakukan tindakan operasi. “Ibu mana yang tidak akan sedih mendengar anaknya yang baru berumur dua minggu harus dibedah di ruang operasi,“ cetus Winarti dengan mata berkaca-kaca.
Winarti berusaha tegar. Jika operasi adalah jalan terakhir menyelamatkan nyawa buah hatinya, dirinya pun merelakan anaknya dioperasi.
Tubuh Izzam dioperasi pada 4 bagian di perut. Winarti pun mengangkat kaos yang melilit tubuh anaknya menunjukan bekas operasi yang telah kering.
“Saya selalu menangis setiap melihat luka operasi ini, Mas. Anak dua tahun harus menanggung penderitaan seberat ini,“ tutur Winarti sambil menyeka bulir air matanya. Pasca dioperasi, Izam harus menjalani rawat inap selama dua bulan.
Menurutnya, untuk biaya perawatan selama berada di RS memang gratis karena keluarganya memegang kartu Jamkesmas. Namun untuk biaya obat harus dengan biaya sendiri. “Padahal harga obatnya mahal-mahal, sampai ratusan ribu rupiah,“ cetusnya.
Untuk biaya hidup selama menjaga anaknya di RS dan membeli obat, Winarti mengaku, Â harus berhutang pada keluarga dan tetangga. Semua barang berharga miliknya telah dijual, untuk biaya berobat anaknya.
Sepulang dari RS, Izzam harus rutin menjalani kontrol satu minggu sekali. Kondisinya berangsur-angsur pulih hingga akhirnya hanya kontrol satu bulan sekali.
Saat menjalani proses kontrol itulah, dokter mendeteksi jika Izzam yang saat itu berusia 8 bulan, juga menderita penyakit TB Paru-paru. Vonis itu kembali membuat Winarti limbung.
Sejak saat itu Izzam harus rutin menjalani berbagai jenis terapi dibeberapa poli di Surabaya diantaranya; Poli Hepatologi (liver), Poli Lambung, Poli Gizi, Poli Jantung dan Poli Binawicara karena hingga berusia 2 tahun Izzam belum bisa bicara.
“Untuk biaya terapi seminggu sekali per bulan harus mengeluarkan dana Rp1,5 juta hingga Rp2 juta, “ ujarnya.
Selain itu karena tubuh Izam yang rapuh, Winarti harus membeli antibodi seharga Rp1,7 juta per obat. “Dokter menyarankan membeli empat botol namun saya hanya mampu membeli dua botol,“ ujar Winarti pasrah.
Untuk biaya berobat anaknya, Winarti yang keluarga miskin ini mengaku harus menanggung hutang Rp12 juta. “Orangtua saya, kakeknya Izzam juga telah menjual lahan pekarangan untuk biaya berobat Izzam, “ ujar Winarti.
Selama ini Winarti dan anaknya tinggal bersama kedua orangtuanya. Sedang suaminya Arif Nur Faizin bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan. Suaminya hanya pulang dua bulan sekali.
Winarti hanya mengharapkan adanya kepedulian dari pemerintah. Khususnya Bupati Lamongan untuk membantu meringankan penderitaannya.
“Bukan untuk saya, tapi demi nyawa Izzam,“ ucap Winarti. diantara isaknya. (totok martono)