SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institute Pertanian Bogor (IPB) mengadakan penyuluhan kepada 25 petani di Desa Bendo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur di balai desa setempat, Minggu (26/1/2014). Dalam penyuluhan itu para petani diajari bagaimana mengelola serangan wereng secara benar.
Perwakilan Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Hermanu Triwidodo, menyampaikan, menjelang tahun 2014 situasi pertanian di Jawa, khususnya tanaman padi mengalami ancaman gagal panen. Ancaman ini didasarkan pada ancaman ledakan hama terutama wereng yang menyerang pertanaman padi.
“Melalui kajian cepat kami di 15 Kabupaten sentra produksi padi di Jawa menemukan fakta bahwa serangan wereng cokelat telah terjadi dan terus meluas,” tegas pria berkumis lebat ini.
Dia menjelaskan, penggunaan peptisida yang dilakukan petani selama ini dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kesadaran mereka soal dampak yang akan ditimbulkan. Para petani cenderung tidak mengetahui jika penggunaan peptisida bisa memicu ledakan wereng.
Menurut dia, kurangnya pemahaman para petani itu dikarenakan tidak cukupnya pengetahuan mereka dari penyuluh pertanian. Sebaliknya, para petani lebih banyak mendapat informasi yang cenderung salah dari kios soal peptisida yang bisa digunakan untuk mengusir wereng.
“Sehingga banyak salah perlakuan. Bahkan tim IPB menemukan banyak petani yang menggunakan jenis peptisida yang dilarang untuk padi tapi justru dipakai oleh petani,” ujar Hermanu, mengungkapkan.
Pada bagian lain,Suryo Wiyono, mengemuakan, dalam mengelola ledakan hama dan penyakit padi sawah pada agroekosistem yang fragil dapat dilakukan dengan pengendalian hama terpadu biointensif. IPB, kata dia, dalam lima tahun terakhir telah mengembangkan PHT Biointensif padi dan bersama-sama petani dari berbagai daerah di Jawa melakukan terhadap tekhnologi ini.
Suryo menjelaskan, komponen PHT Biintensif Padi diantaranya pertama, mengembalikan jerami ke sawah dengan tambahan sedikit pupuk kandang,untuk meningkatkan pakal alternatif predator, kelimpahan mikrob berguna, perbaikan sifat fisik kimia tanah dan sumber unsur hara K,S1 dan Unsur Mikro.
Kedua, lanjut dia, peningkatan ketahanan tanaman padi terhadap hama dan penyakit perlakuan PGPR atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria dan cendawan endofit Nigrospora Sp. Ketiga adalah optimalisasi pemupukan dengan pengurangan 30 persen pupuk NPK dari rekomendasi setempat. Keempat tidak menggunakan peptisida (insdektisida, fungisida, bakterisida, herbisida) sama sekali, karena akan melemahkan agrekositem. Sedangkan kelima mengatur air agar tidak tergenang terus,agar jaring-jaring makanan tanah hidup.
“Keuntungan penerapan biointensif selain hama dan penyakit terkendali dan peningkatan produktifitas 27 persen, juga dapat menekan biaya produksi karena pemakaian peptisida berkurang 100 persen dan pupuk berkurang 30 persen dan penerimaan bersih meningkat 35 persen,” pungkas Suryo.(rien)