SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro-Sejumlah petani di sekitar ladang migas Blok Cepu menilai pekerjaan tani jarang diminati para pemuda desa. Sehingga diperkirakan generasi petani bisa dikatakan akan punah.
“Sekarang tidak mungkin menjumpai anak muda yang pergi kesawah dan bawa cangkul,” kata Sukijo, salah satu petani dari Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (28/1/2014).
Menurutnya, selain karena lebih tertarik ikut bekerja diproyek, pekerjaan tani dirasa tidak menjanjikan dan kasar. “Petani itu rekasa (sengsara) mas,” jelasnya.
Dibanding sebelum adanya proyek, lanjut dia, pemuda kesawah sudah hal yang lumrah. Namun saat ini hampir tidak ada sama sekali.
Ungkapan yang hampir sama juga dikatakan petani lain, Saidi. Pria yang juga Ketua Kelompok Tani, Desa Bonorejo, itu mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir ini amat jarang dijumpai pemuda desa yang kesawah. Bahkan hampir tidak pernah terlihat.
“Mungkin karena banyaknya lahan pertanian yang digunakan untuk proyek,” sambung Saidi, menerangka.
Disamping itu, kecenderungan pemuda yang lebih menginginkan berkerja di proyek Banyuurip. Pria yang juga tokoh masyarakat ini berharap, sektor pertanian hendaknya mendapat perhatian serius. Sebab, bagaimanapun pertanian merupakan bentuk ketahanan pangan bagi semua orang.
Dia menilai secara umum tidak hanya di Blok Cepu saja, namun hampir semua daerah. Pekerjaan tani kurang mendapat tempat dimata generasi pemuda.Â
“Baik pemerintah maupun perusahaan harus peduli dengan nasib petani,” tutur Saidi. (roz)