SuaraBanyuurip.com – Ali Musthofa
Blora – Para pedagang asongan yang biasa mangkal di Stasiun Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah kembali melakukan audiensi dengan pihak pengelola Stasiun Cepu. Mereka masih mempertanyakan kejalasan nasib setelah dilarang untuk berjualan di wilayah stasiun.
Kali ini, kedatangan mereka didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lentera Cepu-Blora berserta Kepala Kelurahan Balun, perwakilan Muspika. Pertemuan itu untuk menindaklanjuti tuntutan pedagang asongan yang salah satunya akan dibentuk desa binaan.
“Sudah dua tahun mereka menunggu, namun belum ada kepastian,” ujar Ketua LSM Lentera, Lulus Tri Laksono dihadapan managemen Stasiun Cepu pada Selasa,(11/2/2014).
Para asongan, menurut Tulus, demikian akrab disapa, menuntut sebelum diwujudkannya program desa binaan itu mereka masih diperbolehkan untuk berjualan.”Jualannya mulai jam malam pukul  jam 11 sampai jam 5 pagi. Setelah itu akan membubarkan diri,” katanya.
Tulus mengungkapkan kedatangan kali ini untuk mempertanyakan perkembangan solusi yang ditawarkan oleh pihak managemen PT. Kereta Api Indonesia (KAI) saat pertemuan beberapa bulan yang lalu bahwa para pedagang asongan akan dijadikan desa binaan.
Yang mana solusi itu disampaikan saat pertemuan antara PT. KAI Daop 4 Semarang, Kepala Stasiun Cepu (yang lama), Pedagangan Asongan yang didampingi pula oleh Bupati Blora, Djoko Nugroho dan dari Polres Blora.
“Itu ada solusi yang ditawarkan kepada para pedagang asong untuk dibuatkan program desa binaan. Kedatangan ini untuk mempertanyakan kepastiannya,” tambah Tulus.
Kepala Kelurahan Balun, Nunik Sulistyo, mengatakan, beberapa waktu yang lalu sudah ada dari pihak PT. KAI yang datang ke kantor kelurahan.”Intinya untuk mematangkan pendataan para asongan dengan mengisi biodatanya. Dan kami data ada 127 asongan,” katanya.
Nunik mengatakan kalau data yang diisi itu telah dibawa oleh PT. KAI, namun hingga sekarang belum ada kejelasan.”Rencananya program desa binaan itu bukan hanya menyatu tempatnya. Karena ada beberapa lokasi seperti taman sebelah kantor kelurahan maupun sepanjang jalan sebelah SPBU Cepu,” ujarnya.
Munculnya program desa binaan ini yang terus dipertanyakan oleh para pedagang asongan itu datang dari pihak PT. KAI, bukan dari kelurahan. (ali)