SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu di wilayah Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah membuka peluang usaha bagi warga sekitar. Warga yang sebelumnya mayoritas bertani, kini banyak mendirikan warung makanan dan minuman untuk melayani para pekerja proyek.
Salah satunya Endah (26), warga Desa Gayam. Awalnya, dia tidak mengira jika usaha warung makanan yang dirintisnya selama hampir 4 tahun di sekitar proyek Banyuurip bisa berkembang dan membuahkan hasil. Karena berjualan makanan di kampung sangat sulit laku karena kebiasaan warga yang tidak suka jajan.
“Namun seiring meningkatnya aktifitas proyek Banyuurip banyak pekerja yang datang kesini sehingga dagangan saya menjadi laku,†kata Endah kepada suarabanyuurip.com.
Menu yang disajikan Endah khas masakan desa. Yakni belut rica-rica, penyet tempe, lele yang dilengkapi dengan lalapan dan daun kemangi, dan sayur lodeh. Namun justru menu itu digemari oleh para pekerja proyek yang berasal dari berbagai macam daerah.
Terbukti, pada siang hari waktu istirahat kerja, warung sederhana miliknya yang berada di depan Gas oil separation plan (GOSP) Banyuurip, milik Mobil Cepu Limited (MCL), itu tak sepi pengunjung.
“Mereka suka yang pedas-pedas, biasanya yang dicari sayur lodeh. Jadi setiap hari saya memasak itu,” kata Endah sambil membuat sambal.
Dari hasil menjual makanan dan minuman itu, Endah mengaku, satu hari bisa meraup untung sebanyak Rp 500.000 sampai Rp 700.000. Pemasukan itu ditabungnya untuk mewujudkan sebuah restauran, mengingat banyak yang suka masakannya.
“Saya juga belajar masakan lain, jadi tidak mengandalkan warung ini saja. Karena nanti di Gayam pasti jadi kota besar, saya ingin membuka restoran,” ujar Endah, mengungkapkan.
Sementara itu, Rianto, salah satu pegawai proyek migas Blok Cepu mengaku, sudah banyak makan di warung sekitar wilayah Gayam, namun masakan yang dirasa cocok  di warung Endah. Tidak hanya lokasi yang dekat, tapi rasa dan harganya sesuai. Berbeda dengan warung lainnya,yang kadang kurang pas dengan lidahnya yang asli Sumedang, Jawa Barat.
“Cocok sama lidah dan dompet saya,” ujar pria (35) itu sambil tertawa.
Sesuai data yang diperoleh dari PT. Tripatra Engineers & Constructors, pelaksana proyek engineering, procurement and constructions (EPC) -1 Banyuurip, jumlah pekerja yang terlibat saat ini mencapai 6000 orang. Dari jumlah tersebut, 2000 diantaranya adalah pekerja dari luar daerah. Mereka menyewa puluhan rumah warga di sekitar lokasi proyek untuk kos maupun base camp, maupun perkantoran.Â
Selain Tripatra, di wilayah Gayam juga terdapat PT. Hutama Karya (HK) yang sedang melaksanakan proyek EPC-5 Banyuurip dan PT. Inti Karya Persada Teknik (IKPT), pelaksana EPC-2 Banyuurip dengan melibatkan jumlah pekerja yang lumayan banyak. (rien)