PERLAHAN senja meremas rembang petang. Sederet awan kelabu meredupkan sinar mentari yang tampak pelan beranjak ke peraduan.
Sesekali muncul, lalu tenggelam, kemudian muncul lagi wajah sang surya diombang-ambing mendung di celah dedaun jati. Seiring semilir angin yang menuntunnya ke ufuk barat.
Senja yang datang di setiap ujung hari sebenarnya lumrah. Tak istimewa karena bagian dari ritual hari. Pun para pesanggem di persil Perhutani KPH Parengan, tak jauh dari ladang Migas Tiung Biru, di Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Petani penggarap lahan tepi hutan jati tersebut, adalah saksi hidup perjalanan panjang yang baru dimulai oleh PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (Pertamina EP) Aset 4 di Tiung Biru. Mereka yang rata-rata berusia senja hanya sebagai saksi. Tak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah pada nasib dan menunggu belas kasih perusahaan minyak milik negara tersebut.
Pula di senja sepi kali ini. Seiring meredupnya cahaya mentari, para pesanggem mulai membersihkan tangan dan kaki. Mereka beranjak kembali pulang ke rumah bertemu anak dan istri. Tentunya sebelum mendung membumikan air hujan yang acap datang di malam hari.
“Ayo Mbah ndang muleh, wes ape magrib lho (Ayo Mbah segera pulang, sudah mendekati magrib),†teriak seorang pesanggem kepada Mbah Tarmuji yang masih asyik menemani Suarabanyuurip.com di bawah rindangnya pohon jati, tak jauh dari lokasi sumur minyak Tiung Biru, Jumat (21/2/2014).    Â
Mbah Tarmuji tampak bergeming. Pesanggem gaek berusia 83 tahun itu tak menggubris teriakan temannya. Petani tua bertelanjang dada ini memilih diam, menikmati selinting tembakau Jawa beraroma khas.
Tak berbeda dengan warga desa tepi hutan lainnya, Mbah Tarmuji baru belakangan tahu kalau ada minyak di bawah lahan seluas 3 hektar tak jauh dari ladang garapannya. Dulu kisaran tahun 2008 memang ada datang alat-alat berat masuk hutan. Â Mereka tak berani mendekat, apalagi alat pemboran mulai dioperasikan untuk menemukan sumur minyak.
“Waktu itu kami tidak menghiraukan, sekarang baru tahu kalau disitu sekarang jadi pabrik minyak,†kata Mbah Tarmuji yang lahir di Desa Kalisumber.
Hadirnya industri Migas di desanya, telah membawa berbagai perubahan. Semula Kalisumber adalah desa sepi. Tak ada aktifitas lain, kecuali bertani, memelihara kambing dan sapi, dan yang paling banyak meladang di lahan persil Perhutani. Â Â Â
Kini Mbah Tarmuji maupun petani lain yang berusia tua hanya bisa melihat, dan mendengar setiap perkembangan sumur minyak yang dioperatori Pertamina EP Aset 4 tersebut. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Kalah dengan anak-anak muda yang belakangan beramai-ramai terlibat kerja di ladang Migas Tiung Biru. Â
Apalagi Tiung Biru tak hanya memiliki satu lokasi. Ada Tiung Biru A, Tiung Biru B dan kemudian Tiung Biru C yang aktivitasnya mampu menyedot minat warga desa lain di sekitarnya. Terlebih setelah perusahaan milik negara itu pada tahun 2008 mendatangkan alat berat rig, untuk memulai pengeboran sumur minyak Tiaung Biru A.
Sejak itulah, ungkap Mbah Tarmuji, warga yang semula menjalankan aktivitasnya sebagai petani mulai tergiur untuk melamar kerja. Memang tak semua diterima, namun tak sedikit warga desa-desa di sekitar lokasi sumur diterima sebagai pekerja.
“Kabarnya ada yang diangkat jadi sukuriti (maksudnya security-Red), plakman (maksudnya flagman-Red), hepler (maksudnya helper-Red) dan tenaga kerja kasar lainnya,” tutur pria bermuka keras tersebut.
Meski banyak warga yang tergiur pekerjaan di proyek Tiung Biru, namun tak membuat pria berusia lanjut ini ikut-ikutan. Dia pun tak pernah menyuruh keluarganya ikut melamar kerja di Tiung Biru.
“Saya memilih menekuni sebagai petani saja, Pak. Hasil dari bertani lebih adem daripada dibayar oleh perusahaan tapi kena teguran jika sedikit saja ada kesalahan,” aku pria yang untuk berdialog dengannya harus mengeraskan suara tersebut.
Bagi kalangan usia sepuh di Kalisumber, sekalipun tak terlibat dalam pekerjaan disana, namun memiliki kebanggaan tersendiri adanya sumur Migas di desanya. Adanya sumur minyak telah merubah kondisi desa sekitar dibandingkan sebelumnya.
“Tidak ikut kerja di sumur minyak saya tidak apa-apa. Saya senang dan bangga, sekarang pembangunan di Kalisumber sudah ada peningkatan,†kata Mbah Tarmuji. Dia contohkan, sudah ada bantuan pembangunan pagar makam desa, jalan poros Kecamatan Purwosari-Tambakrejo juga sudah diaspal.
Keberadaan Pertamina EP dalam mengelola lapangan Tiung Biru memang berdampak baik. Â Selain infrastruktur perusahaan ini juga menggulirkan pemberdayaan masyarakat di enam desa di sekitar lokasi Tiung Biru. Satu contoh diantaranya adalah melibatkan warga dari enam desa dalam pengangkutan minyak mentah dari Tiung Biru ke Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
“Mereka tergabung dalam Kelompok Masyarakat (Pokmas), semuanya dari Desa Purwosari, Gapluk, Kuniran, Kecamatan Purwosari, dan Desa Kalisumber, Tambakrejo, Malingmati, Kecamatan Tambakrejo,” kata M Wahyudi warga Kalisumber saat ditemui secara terpisah di desanya.
Dia berharap keberadaan ladang Migas Tiung Biru membawa perubahan dan perkembangan pembangunan di desa sekitarnya. Setidaknya semakin lama desa sekitar semakin maju. (samian sasongko)