Mengobati Kegelisahan Anak Petani

SuaraBanyuurip.com

Tak lama lagi proyek pengembangan penuh lapangan Banyuurip selesai. Sementara proyek Gas Cepu sudah menunggu.

Dentum suara mesin dan alat-alat berat di proyek Lapangan Banyuurip, Blok Cepu di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur terdengar ramai. Ribuan pekerja tampak sibuk mengerjakan pekerjaannya sesuai bidangnya. Sekalipun suhu panas di lapangan migas yang di operatori Mobil Cepu Limited (MCL), anak perusahaan raksasa migas Amerika Serikat, ExxonMobil, pada siang itu terasa menyengat tubuh, namun mereka tetap bersemangat mengerjakan proyek negara tersebut.

Bahkan hingga larut petang mereka masih beraktivitas mengejar terget penyelesaikan fasilitas penunjang produksi penuh yang mundur dari target yang ditetapkan pemerintah. Produksi puncak Banyuurip sebesar 165 ribu barel per hari (Bph) yang ditargetkan terpenuhi pada kuartal ke tiga 2014 ini tak tercapai. Puncak produksi baru terlaksana pada 2015 mendatang. Itu pun belum diketahui kapan pastinya.  

Namun, ibarat nasi belum menjadi bubur, meski mundur proyek terus dilembur, hingga tak terasa progres pengerjaan konstruksi lapangan dari kelima paket proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement and construction/EPC) telah mencapai sekitar 80 persen lebih. Pula jumlah peningkatan produksi Banyuurip yang naik beriringan.

Dari produksi awal (early production) sebesar 20 ribu bph kini berada dikisaran 29 ribu bph. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan gas Bumi (SKK Migas), Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) serta kontraktor EPC dengan segenap upayanya terus mengejar target produksi puncak 165 ribu barel per hari (bph).

Di sisi lain, kegelisahan mulai muncul di tengah perkampungan sekitar lapangan Banyuurip manakala proyek itu telah rampung. Bayang-bayang menjadi pengangguran pun dipelupuk mata mereka. Terlebih setelah tanah yang menjadi gantungan hidup mereka telah terbeli untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.

Sebab mereka yang mayoritas sebelumnya hanya sebagai petani tak dibekali skill (keterampilan) memadai. Sehingga rata-rata mereka hanya dipekerjakan sebagai tenaga kasar di proyek migas. Sementara program pengembangan masyarakat yang diberikan operator sebagian besar tidak diprioritaskan pada pemberian peningkatan skill untuk melanjutkan hidup setelah proyek Banyuurip selesai. Praktis gejolak sosial akan kembali mengintai.

“Kalau proyek selesai, tentu akan banyak yang menganggur mas,” demikian prediksi Ketua BPD Gayam, Warsito kepada suarabanyuurip.

Baca Juga :   Nekad Merantau Berbekal Ijasah SMP

Dia mengungkapkan, tidak sedikit warga Gayam yang pergi merantau mencari pekerjaan. Sebaliknya, tidak sedikit pula warga lokal dan warga yang sebelumnya merantau terlibat didalam proyek Banyuurip.

“Yang merantau kerja diluar lumayan banyak, tetapi yang ikut didalam proyek juga banyak, khususnya yang memiliki skill,” ujarnya.

Warsito menilai hal tersebut merupakan sebuah dinamika sosial. Menurutnya, semua tergantung pada upaya dan pilihan masing-masing warga. Namun yang pasti, sejak adanya proyek Banyuurip, tidak sedikit perubahan yang terjadi, Gayam yang dulu tak banyak dikenal kini mulai ramai dan dikenal luas. Banyak sisi lain yang menggugah denyut perekonomian warga.

“Dulu anak Gayam sering diremehkan, sekarang banyak yang segan,” kata Kartono, warga Desa Manukan, Kecamatan Gayam terpisah.

Potret realitas proyek Lapangan Banyuurip, di Kecamatan Gayam diperkirakan juga akan menjadi cerminan di Lapangan Gas di Desa Bandungrejo, Blok Cepu Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

Memang, saat ini suasananya masih terlihat sepi. Setidaknya bisa dilihat dari sebuah warung makan sederhana di depan pintu masuk Lapangan Gas Jambaran yang telah usang tak berpenguni. Meski begitu, tak jauh dari warung itu terdapat sebuah warung serupa yang masih berdiri. Pemiliknya memilih bertahan walau proyek di lapangan gas itu belum jelas kapan dimulai lagi. Sepi begitu akrab dengan warung itu.

Entah apa yang menjadikan, Suhartini, pemilik warung, begitu telaten ditengah sepinya pembeli disekitar lokasi itu. Sementara rekan seprofesi yang membuka warung sudah pindah ke lapangan minyak Banyuurip, di Kecamatan Gayam, yang hanya berjarak kurang lebih sekitar 3 km dari Bandungrejo.

“Banyak yang boyong  ke proyek Banyuurip, kan disana proyeknya sudah mulai dulu,” kata Suhartini ketika dikonfirmasi suarabanyuurip.com di warungnya.    

Mbak Har, demikian warga desa setempat ini biasa disapa pelanggannya, menyatakan, dirinya tak tertarik memindah warungnya ke lokasi proyek Banyuurip. Dia meyakini jika sudah waktunya lapangan gas Jambaran bakal seramai Banyuurip. Suhartini bersama warungnya begitu setia pada lapangan gas Jambaran.

“Sudah 10 tahun lebih saya berjualan disini,”ujarnya.  

Cukup lama dinanti, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan SKK Migas telah menyepakati rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) proyek Gas Cepu pada tanggal 13 Februari 2013 lalu. Pertamina EP Cepu (PEPC) ditunjuk sebagai operatorship untuk mengelola Lapangan Gas Jambaran yang sebelumnya dikuasai oleh Mobil Cepu Ltd (MCL).

Baca Juga :   Menjaga Cahaya dari Desa Jelu

Proyek Gas Cepu bermuara di lapangan gas Jambaran, tak jauh dari lapangan minyak Banyuurip.

Kebetulan sebagian dari wilayah Kecamatan Gayam tercakup di dalamnya. Dari lapangan Jambaran terhubung ke Lapangan Tiung Biru (TBR), dengan jarak sekitar 12 km meretas alam ladang persawahan dan hutan membentang ke barat. Tepatnya di Kecamatan Tambakrejo, dan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro.

Proyek ini disebut unitisasi lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) karena secara geologis masih berada dalam satu lempengan. Unitisasi lapangan JTB diintegrasikan dengan lapangan gas Cendana di Desa Cendono, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Dari lokasi TBR, membentang lagi ke arah barat wilayah Bojonegoro sekitar 15 km, berdekatan dengan Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Hanya saja, Lapangan Cendana tetap dioperatori MCL.

Di dalam perut bumi teritorial ini tersimpan cadangan gas bumi. Data dari operator yang berhasil diperoleh suarabanyuurip media menyebutkan, total sumur Unitisasi Lapangan JTB dan terintegrasi Lapangan Cendana ada 14 sumur. Delapan sumur di Lapangan JTB dan enam sumur di Lapangan Cendana.

Jumlah kumulatif produksi akan dihasilkan kondensat sebesar 18.63 Milion Stock Tank Barrels (MMSTB) dengan laju produksi puncak kondesat 3.082,81 Barel Oil Per Day (BOPD) pada tahun 2018. Sementara jumlah kumulatif Gas sebesar 1.233,56 Bilion Standard Cubic Feed (BSFC), dengan laju produksi plateau gas sebesar 185.22 Million Standard Cubic Feet Day (MMSCFD) selama 19 tahun.

Dari sekian jumlah cadangan yang dipaparkan, untuk produksi awal dari lapangan ini diperkirakan bisa menghasilkan gas sebesar 330  million metric british thermal units (MMBTU) ditahun 2018 nanti.  Kemudian diperuntukkan link gas sebesar 185 MMBTU. Sedangkan 85 MMSFCD sisanya, akan dialokasikan ke pabrik pupuk PT.Pupuk Kujang Cikampek. Selain itu, 15 MMSFCD sisanya lagi kabarnya akan dimanfaatkan PT Bangkit Bangun Sarana (BBS), BUMD milik Pemkab Bojonegoro.

Kegelisahan warga kampung tepian hutan sekitar ladang minyak Banyuurip itu, tampaknya, bakal terobati. Karena proyek Gas Cepu merupakan mega proyek yang tak kalah dengan Banyuurip yang membutuhkan tanaga kerja dan peluang usaha banyak. (athok moch nur rozaqy)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *