SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Menjadi wakil rakyat tampaknya jadi impian banyak orang. Dengan latar belakang yang beragam, mereka berlomba-lomba mencalonkan diri sebagai calon legislaatif (Caleg).
Salah satunya Sarmadi S.Pd, caleg DPRD Lamongan, Jawa Timur, dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ia mencoba merubah nasibnya dari bekerja sebagai penjual kerupuk, untuk berkompetisi menjadi wakil rakyat.
Bagi Sarmadi sendiri, majunya dia sebagai caleg lebih pada menjalankan amanah partai yang menugaskan dirinya untuk menjadi caleg.
“Di Partai PKS tidak ada rumus kader mencalonkan diri. Namun partai yang mencalonkan kader untuk menjadi caleg,” kata Sarmadi berdiplomasi.
Sarmadi cukup beruntung mendapatkan nomor urut 1 di daerah pemilihan (Dapil) III yang meliputi Kecamatan Babat, Pucuk, Sugio, dan Kedungpring.
Disinggung jika caleg harus bermodal besar, bapak 8 anak itu tidak menampik. Namun modal besar baginya bukan segalanya. Yang paling penting baginya adalah ikhtiar dan kemenangan ditentukan oleh Allah.
“Saya niat ingsun ingin mengabdi pada masyarakat. Jika terpilih kepentingan rakyat yang akan selalu saya perjuangkan,“ tegas pria yang tinggal di Desa Puncakwangi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan itu.
Mengadu nasib menjadi angota DPRD Kabupaten Lamongan, ternyata bukan kali ini dilakoni Ketua Kaderisasi PKS Kabupaten Lamongan ini. Dirinya sudah tiga kali maju sebagai caleg, namun gagal. Yakni di tahun 1999, 2004, 2009, tapi tak membuatnya jera.
“Kegagalan 3 kali nyaleg bagi saya menjadi pengalaman berharga. Mudah-mudahan nyalegnya saya kali ini membawa berkah, bisa menjadi anggota DPRD,” harap Sarmadi.
Untuk menjaring massa, Sarmadi mengaku banyak dibantu kader-kader PKS. Selain itu ia juga memiliki beberapa tim sukses. Namun Sarmadi mengaku lebih banyak ‘berkampanye’ sendiri dengan mendatangi rumah-rumah warga door to door.
“Cara bersilohturohim kerumah-rumah warga lebih efektif. Disamping lebih hemat biaya. Soalnya modal nyaleg juga cekak,“ ungkap pria berusia 49 tahun itu.
Kehidupan Sarmadi sendiri terbilang sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan 8 anak, dirinya menekuni usaha berjualan krupuk bermerk Ikan Laut Sejahtera. Selain dipasarkan sendiri, beberapa pedagang datang kulakkan ditempatnya.
Untuk produksi krupuk Sarmadi tidak memiliki karyawan. Istri dan anak-anaknya yang mengelola setiap hari. Pemasarannya saat ini hanya disekitar wilayah Babat.
“Lumayanlah mas bisa untuk makan dan membesarkan anak,” cetusnya sambil tersenyum.
Dia mengaku, jika nanti terpilih menjadi anggota dewan akan tetap menekuni usahanya berjualan krupuk. “Jualan krupuk itu riwayat. Dari hasil jualan krupuk juga modal saya untuk nyaleg,“ tuturnya tanpa menyebutkan berapa besaran modal yang dipergunakan untuk nyaleg.(tok)