Bertaruh Nyawa Demi Kotoran Kelelawar

Pengumpul kotoran bukan sebuah pekerjaan pilihan. Keterbatasan pendidikan dan ketiadaberdayaan mengantarkan mereka ke lorong gelap goa kelelawar.

AROMA tak sedap seketika menyengat lalu menyergap begitu menapak pintu goa kelelawar di Desa Puncakwangi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Di langit goa terlihat ribuan, bahkan jutaan kelelawar bergelantungan. Saling berhimpit dengan suara gaduh bercericit.

Bau basin dan hawa pengap di dalam gua tak menjadikan kosentrasi, Mursadi (43), mengeruk kotoran kelelawar yang berserakan di lantai. Dengan sepotongan papan lelaki bertubuh kurus itu menghimpun ceceran kotoran kelelawar. Begitu teronggok dengan tangan telanjang memasukkannya ke dalam karung.

Kaos lusuh Mursadi semakin kotor oleh tempelan kotoran hewan pemangsa buah. Wajah tirusnya pun terlihat penuh bercak hitam, akibat ulah hewan yang tanpa permisi melepas kotoran begitu saja dari langit-langit goa.

“Sudah 10 tahunan saya melakoni pekerjaan ini, Mas,“ kata Mursadi membuka kisah kepada Suarabanyuurip.com di mulut goa,  Sabtu (1/3/2014).

Dia sadari pekerjaan apapun selalu mengandung risiko. Termasuk sebagai buruh pengumpul kotoran kelelawar. Risiko yang harus ditanggung jauh lebih besar dari upah yang diterima. Apalagi tidak ada jaminan asuransi yang menanggungnya setiap kali terjadi kecelakaan kerja.

“Ndak ada pilihan pekerjaan lain, Mas, sehingga terpaksa bekerja begini,“ terang warga Desa Puncakwangi ini.

Selama beroperasi di dalam goa Mursadi tak sendiri. Ada tujuh rekannya yang setiap hari menjumputi ceceran kotoran kelelawar tersebut.

Baca Juga :   Menikmati Kicau Burung di Pasar Sawo

Setiap hari para pekerja kasar tersebut memulai aktifitas dari jam 08.00 WIB hingga 12.00 WIB. Waktu kerja memang hanya terbatas empat jam, karena selepas pukul 12.00 WIB hawa gua begitu pengap dan panas. Selain itu kotoran kelelawar juga sudah menipis.

Selama setengah hari  bekerja tersebut, setiap buruh rata-rata bisa mengumpulkan lima sampai enam kwintal kotoran kelelawar.

“Kalau musim penghujan, kotorannya lebih banyak sehingga bisa sampai tujuh kwintal,” timpal, Heru, pengumpul kotoran kelelawar yang lain di tempat sama.

Produksi kotoran kelelawar di musim penghujan memang lebih besar, karena di musim ini banyak pohon berbuah. Kelelawar bisa sepuasnya mendapatkan makanan di alam bebas, sehingga emproduk kotoran pun lebih banyak. Berbeda dengan saat musim kemarau dimana kelelawar sulit mendapatkan makanan.

Soal upah mereka baru akan mendapatkan hasil, jika kotoran kelelawar yang mereka kumpulkan mencapai 1 ton yang dihargai Rp550 ribu. Dalam bekerja, mereka dibagi dalam petak-petak lahan garapan. Mereka bekerja tidak berkelompok tapi sendiri-sendiri.

Tidak semua orang di Desa Puncakwangi bisa bekerja sebagai pengumpul kotoran kelelawar. Tidak saja karena dianggap menjijikan, dan risiko kecelakaan yang cukup besar, para pekerja ini juga harus bisa membaca isyarat alam.

“Bahaya paling rentan adalah jugruk (jatuhnya) batu atap goa. Selain itu dibeberapa bagian goa ini juga terdapat zat asam yang mematikan,“ jelas Mursadi, hal ini juga dibenarkan Heru.

Baca Juga :   Siang di Pelataran SD Langganan Banjir

Selama ini, aku mereka, para pekerja bisa selamat dari ancaman bahaya karena memiliki insting yang kuat, dan bisa membaca tanda-tanda alam. Seperti saat batu di atas goa hendak jatuh, biasanya didahului jatuhnya debu-debu kecil yang hanya bisa dibaca oleh pekerja yang memiliki naluri.

“Itu isyarat alam yang orang awam tidak bisa membacanya. Biasanya kalau sudah begitu, kami berhenti bekerja dulu,“ jelas Mursadi.

Mereka juga paham detail semua sudut goa. Di sudut mana yang biasanya terdapat sebaran zat asam berbahaya dan hampa udara. Tempat-tempat seperti itu selalu mereka hindari.

Bahaya lain yang sebenarnya paling rentan adalah jalanan goa yang licin dan berlubang-lubang. Jika tidak hati-hati maka akan jatuh terpeleset yang bisa berakibat fatal.

“Belum lagi risiko sakit paru-paru atau sesak nafas, Pak. Setiap hari menghirup udara tidak sehat dari kotoran kelelawar. Semua itu tak kami hiraukan, pokoknya bekerja saja demi menghidupi keluarga,“ cetus Heru, penuh kepasrahan.

Walau sudah belasan tahun bergulat dengan kotoran kelelawar di dalam goa, para pekerja tidak tahu sampai dimana ujung dari goa tersebut. Konon dari tutur tinular (cerita dari mulut ke mulut) di kalangan warga Pandanwangi, goa di desanya bisa tembus hingga goa Ngerong di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Tuban, dan goa Nglirip di wilayah Singgahan, Tuban. (totok martono)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *