Puncakwangi Andalkan Goa Kelelawar

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan – Keberadaan goa kelelawar di Desa Puncakwangi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur telah menjadi harta karun bagi warga desa setempat. Setiap tahun dari kotoran kelelawar bisa memberikan pemasukan hingga ratusan juta rupiah kepada desa.

Pengelolaan goa kelelawar dilakukan dengan cara pelelangan yang dilakukan pemerintah desa setiap tahun. Syaratnya, pelelang merupakan warga asli Desa Puncakwangi. Penawar harga tertinggi yang akan menjadi pemenang lelang.

“Kotoran kelelawar menjadi sumber penghasilan desa terbesar, pengelolaannya dilakukan dengan cara lelang, “ kata Kades Puncakwangi, Bagus, kepada SuaraBanyuurip.com, Sabtu (1/3/2014).

Pelelangan yang biasanya saat akhir tahun itu dilakuan secara fair karena berlangsung di kantor desa. Hasil dari pelelangan dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan desa dan mendukung pembangunan desa.

Tahun 2013 lalu nilai pelelangan goa kelelawar mencapai Rp107 juta. Pemenangnya adalah Musa Hariyanto.

Saat ditemui Suarabanyuurip.com, Musa mengaku, sudah tujuh tahun berturut-turut menjadi pemenang lelang. Menurutnya, bisnis kotoran kelelawar bisa dibilang tidak mengenal kata rugi.

Baca Juga :   GMNI Sayangkan SP3 Kasus Korupsi Unirow

“Penjualannya jelas, langsung dikirim ke perusahaan di daerah Candi dan Gedangan,  Sidoarjo, “ kata lelaki sepuh ini. Selain itu harga jual kotoran kelelawar juga selalu naik setiap tahun.

Untuk mengambil kotoran kelelawar di dalam goa, Musa mempekerjakan delapan orang karyawan. Mereka bekerja dengan sistem borongan.

“Kalau sudah terkumpul satu ton saya beli Rp550 ribu,“ terangnya seraya menambahkan, pekerjanya menjalankan aktivitas dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.

Sepengetahuan Musa, dari dua perusahaan tersebut kotoran kelelawar yang sudah diproses diekspor dalam bentuk kemasan 20 Kg ke Jepang, Korea, Kanada hingga Amerika untuk bahan pupuk organik tanaman.

Rata-rata setiap bulannya Musa bisa melakuan tiga hingga empat kali pengiriman dengan kapasitas tujuh ton sekali kirim. Tentang harga jualnya dia enggan membebarkan.

Disinggung apa tidak mencoba memanfaatkan kotoran kelelawar untuk hal lain seperti bio gas mengingat harga BBM yang mahal, Musa mengaku, sudah enjoy menjual dalam bentuk mentah.

“Saya tidak paham soal biogas, soal BBM mahal itu urusan pemerintah,“ ujarnya singkat. (tok)

Baca Juga :   Damkar Bojonegoro Semprot Disinfektan Pasar Kota

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *