SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Hingga saat ini, warga Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur tak berani lagi mandi di sungai akibat adanya dugaan pembuangan limbah dari penampungan yang berada di wilayah Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngasem ke sungai di wilayah setempat. Mereka takut jika kembali terserang gatal-gatal pada kulit tubuhnya.
Seorang warga Desa Ngasem, Yadi, mengatakan, sejak adanya limbah dari lokasi Banyuurip, Blok Cepu yang dibuang di tempat pembuangan limbah di Desa Ngadiluwih, warga Ngasem kususnya di dekat sungai saat ini tidak berani lagi mandi di sungai.
“Saya sekarang tidak berani lagi mandi di sungai seperti biasanya, Mas. Karena, saya takut kalau terkena gatal-gatal lagi. Sebab, saya pernah mandi di sungai seperti biasanya ternyata sehabis mandi tubuh saya gatal semua. Padahal, sebelum ada pembuangan limbah yang diduga dialirkan di sungai itu tidak pernah air sungainya gatal,” kata Yadi kepada suarabanyuurip.com, Selasa (04/03/2014)y sebelum mengikuti pertemuan di Pendapa Kecamatan Ngasem.
Warga yang berdomisisli di Dusun Besaran RT/RW 16/05 itu menjelaskan, tidak semuanya warga Ngasem yang menerima dampak tersebut. Hanya warga yang berada di sekitar aliran sungai yang diduga dialiri limbah kotoran manusia yang bekerja di proyek Blok Cepu.
“Kusus warga Besaran yang dekat dengan sungai yang terkena dampaknya. Karena, awalnya biasa mandi di sungai sekarang tidak berani. Kalau orang dewasa gatalnya tidak sampai bentol-bentol. Tetapi, kalau anak-anak gatalnya hingga bentol dan habis digaruk jadi koreng, Mas,” ujar Yadi menjelaskan.
“Ya intinya pemilik pembuangan limbah mohon warga diperhatikan, dan sungainya jangan dialiri limbah lagi,” imbuhnya sebelum masuk Pendapa Kecamatan Ngasem.
Hingga saat ini pertemuan warga dengan PT. Platindo, subkontraktor yang mengelola limbah kotoran manusia yang difasilitasi pemerintah kecamatan dan pemerintah desa (pemdes) Ngasem masih berlangsung.(sam)