SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Nasib petani di wilayah lapangan Migas Blok Nona yang hingga kini tak jelas kapan dieksplorasi benar-benar terpuruk. Hasil panenan hancur akibat serangan hama wereng dan tikus.
Panen raya yang diharapkan para petani di wilayah ini tidak sesuai yang harapan. Padi yang berhasil dipetik hanya sekitar 25 persen, karena hancur oleh serangan hama.
“Panenan hancur karena wabah wereng dan tikus, Mas,“ kata petani asal desa Banjarjo, kecamatan Kedungpring, Karlan, kepada SuaraBanyuurip.com, Selasa (11/3/2014).
Biasanya untuk perhektar dirinya bisa panen hingga empat ton gabah. Namun, karena serangan hama hanya bisa panen kurang dari satu ton gabah.
Nasib serupa dialami oleh para petani Desa Nguwok, Â Kecamatan Modo. Panenan yang dipetik tidak impas dengan biaya tanam.
“Panenannya sudah kedahuluan wereng dan tikus,“ keluh Hadi, petani setempat.
Dia katakan, para petani sebelumnya sudah berupaya mencegah merebaknya wabah tikus dan wereng, dengan menggunakan obat insektisida. Biaya yang dikeluarkan mencapai jutaan rupiah. Namun, hama tikus dan wereng masih terus merajalela hingga menghancurkan tanaman padi.
Para petani biasa nggrantek (merontokkan bulir padi dengan batangnya) di sawah sehabis dipanen. Para tengkulak yang biasa datang membeli ke sawah. Harga padi basah saat ini Rp3.300 perkilogram. (tok)