SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Kabupaten Blora, Jawa Tengah, langsungkan kirab budaya peringati Hari Jadi Blora ke-269, Selasa (11/12/2018). Mengambil start dari Alun-alun Blora dan Finish di Blok T Blora.
Masyarakat tampak antusias menyaksikan kirab budaya yang menonjolkan kearifan lokal. Melengkapi suasana hari Jadi Blora yang bertema Blora Jiwa Nusantara, dua gunungan, yakni lanang dan wadon (pria dan perempuan) yang dipikul prajurit semut ireng.
Gunungan berisi jajanan dan hasil bumi (palawija) Blora. Menggambarkan Kabupaten Blora yang murah sandang dan pangan serta selalu bersyukur kepada Allah SWT.
Bupati Blora Djoko Nugroho bersama istri Umi Kulsum berada paling depan dengan mengenakan pakaian adat kerajaan. Sepanjang perjalanan warga masyarakat saling berebut jabat tangan dengan Bupati.
Tampak saat berada di Jalan Pemuda Blora, siswa Sekolah Dasar (SD) berebut untuk bersalaman dan mencium tangan Bupati Blora.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata Kebudayaan (Dinporabudpar), Kunto Aji, menyampaikan, bahwa warga masyarakat tampak antusias menyaksikan dan mengabadikan momentum tersebut.
“Kami mengapresiasi atas antusias warga menyaksikan dan ikut menyemarakkan Kirab Budaya,†ujarnya.
Menurut Kunto, ada dua kabupaten yang ikut menyemarakkan Kirab Budaya. Yakni tim kesenian dari Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur dan Tim Kesenian dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
“Penampilan kuda kepang jumbo dari Kabupaten Jepara dan prosesi sedekah laut dengan mengusung kepala sapi, dari Kabupaten Tuban,†jelasnya.
Alif, warga Desa Trembul, Kecamatan Ngawen, memiliki anggapan berbeda soal Kirab Budaya tersebut. Menurutnya, perayaan tahun ini kurang meriah. Sebab, minim pertunjukan barongan.
“Yang biasanya mengeluarkan barongan, tahun ini hanya tari kreasi,†kata aktivis pendaki gunung ini.
Pria yang mengaku setiap tahun selalu menyaksikan kirab budaya ini, menduga, kurang meriahnya perayaan dimungkinkan karena banyak siswa yang masih sibuk dengan urusan sekolahnya. Disamping itu, patani juga masih sibuk bercocok tanam.
“Sehingga mereka tidak bisa menyaksikan kirab budaya,†katanya.
Dia melihat, awalnya memang ramai. Tapi lama-lama masyarakat jadi malas, dan berangsur menyusut.
“Mungkin memang karena cuaca panas,†ujar Alif. (Ams)