SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Geliat industri yang berada di Kabupaten Tuban, Bojonegoro, dan juga Kabupaten Blora, membawa dampak pada kebudayaan daerah setempat.
Budayawan asal Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Suhariyadi, menyebut, keberadaan industri di suatu wilayah membawa dampak pada invansi budaya daerah setempat. Hal itu disebabkan karena benturan dua kebudayaan yang berbeda.
“Industri merupakan produk kebudayaan modern, sementara kebudayaan yang hidup ditengah masyarakat adalah budaya tradisional,†ujar Suhariyadi, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (12/3/2014).
Kebudayaan tradisional yang berada di tengah masyarakat biasanya berupa Sarkad, ataupun kepercayaan yang timbul di tengah masyarakat, ataupun berupa mitos, profesi, dan juga kebiasaan lain yang lazim dan sudah berkembang lama di suatu daerah.
Karena ada dua kebudayaan yang bertemu, akan menimbulkan proses transformasi dua kebudayaan yang kerap menimbulkan konflik. Sehingga semakin menyuburkan isu sensitif di tengah masyarakat.
“Konflik ini terjadi akibat tidak siapnya masyarakat secara psikologis untuk menerima kebudayaan modern,†kata pria yang juga menjadi dosen sastra di Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban.
Isu tersebut, menurut Suhariyadi bisa berupa tuntutan pekerjaan, lingkungan hidup, ataupun isu lain yang kerap memunculkan aksi protes masyarakat dari perusahaan.(edp)