Harus Maksimalkan Pelatihan Keterampilan

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Industrialisasi minyak dan gas bumi (migas) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, hingga kini dinilai belum memberikan dampak positif terhadap masyarakat di sekitar ring 1 baik di Blok Cepu, Blok Tuban, maupun Sumur Tiung Biru.

Ketua GP Anshor Bojonegoro, Hasan Bisri, mengungkapkan, selama ini pemerintah maupun kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) kurang memberikan program corporate social responsibility (CSR) yang mengarah pada pelatihan keterampilan atau skill agar masyarakat tidak bergantung dari bantuan.

“Pelatihan kemandirian itu agar masyarakat tidak lagi manja,” tegasnya.

Bisri menilai, pelatihan skill selama ini masih belum maksimal. Salah satunya di desa ring 1 Lapangan Sukowati Blok Tuban. Oleh sebab itu, masyarakat disana tidak siap sama sekali bahkan kultur sosial yang sudah rusak.

“Dimanapun, adanya industri seperti dua sisi mata uang, dimana ada industri disitu ada prostitusi,” tandasnya.

Dia menjelaskan, tradisi di masyarakat sekitar pertambangan saat ini sudah berubah 360 derajat dari sebelumnya dan bahkan bertabrakan dengan tradisi serta budaya dan adat.

Baca Juga :   PBB Babat Nyantol di Perangkat Desa

“Sekarang hidonisme anak-anak muda lebih dominan,” tandasnya.

Karena itu, pemerintah harus mengantisipasinya karena berpean sebagai pengelola dana dan kebijakan. “Kalau tidak bisa mengantisipasi lebih baik kegiatan industrialisasi migas dihentikan saja,” pungkas dia.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *