SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Puluhan putra Bojonegoro, Jawa Timur yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat larangan eksploitasi dan eksplorasi Minerba (Mineral dan Pertambangan) di Kalimantan, meminta Pemkab Bojonegoro memfasilitasi pekerjaan khususnya di bidang Migas.Â
Sugiharto (23), asal Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, mengungkapkan, bersama puluhan teman seangkatannya sudah bekerja selama 4 tahun di pertambangan batu bara. Akan tetapi, mencoba peruntungan di Bojonegoro sejak awal 2012 hingga kini belum dapat informasi apa-apa.
“Pertengahan tahun, kami dapat ijin pulang dan mencoba bertanya ke Disnakertransos setempat bilangnya tidak ada lowongan,” kata lulusan dari SMK 4 Bojonegoro dalam Dialog Jumat di Pendapa Malowopati Bojonegoro, Jumat (21/3/2014).
Dia mengatakan, pernah mencoba melamar langsung ke kontraktor EPC 1 Lapangan Banyuurip Blok Cepu, PT Tripatra, tapi sia-sia.
“Lowongan kerja khususnya Migas di Bojonegoro belum transparan, padahal kita menginjak bumi yang kaya sayang belum memberikan pekerjaan bagi rakyatnya,” tegasnya.
Dia menyampaikan, kekayaan alam di Bojonegoro dengan adanya minyak dan gas bumi belum memberikan dampak yang besar bagi rakyatnya.
“Kita punya pengalaman lima tahun di pertambangan, tapi jadi buruh kasar di daerah sendiri saja susahnya minta ampun,” imbuhnya.
Dia bersama teman-temannya mengetahui jika ada pelaksanaan sertifikasi migas, tapi terbukti juga tidak semuanya yang bersertifikasi bisa bekerja.
“Kami berharap uang dari migas ini lebih bermanfaat dan menyejahterakan rakyat,” tandasnya.
Pihaknya berharap, pemkab memberikan beasiswa bagi pelajar yang berprestasi dengan menggunakan uang migas. “Mudah-mudahan bisa digunakan kuliah gratis bagi siswa prestasi, ” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Disnakertransos Bojonegoro, Adie Wicaksono, menyatakan, pihaknya mendapatkan laporan dari Kepala SMK N 4 bahwasanya para pemuda yang terkena PHK tersebut tidak melakukan syukuran saat diterima di Pertambangan. Padahal, itu sudah nadzar saat pihak sekolah mengakomodir ke Kalimantan.
“Kebetulan kepsek SMKN 4 datang kepada saya dan bercerita begitu, ya mungkin di PHK karena tidak syukuran,” ujarnya sambil tertawa.
Meskipun begitu, Adie menyarankan, pemuda-pemuda tersebut mendaftarkan diri mengikuti pelatihan dan sertifikasi melalui program Generasi Emas yang bekerjasama dengan BUMD PT BBS.
“Kebutuhan pertambangan dan pengeboran itu beda, dan kebetulan di proyek Blok Cepu memiliki spesifikasi tersendiri, sementara tenaga kerja untuk itu belum ada, ” tandasnya.(rien)