Usaha Kecil di Desa Migas Tak Dapat Penguatan Modal

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Masyarakat di desa Ring 1 Lapangan Sukowati, Blok Tuban, sebagian besar belum merasakan dampak peningkatan ekonomi dari pengeboran migas yang di operatori Joint Operating Body Pertamina Petrocina East Java (JOB P-PEJ).

Program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan migas asal China itu belum memberikan perubahan secara signifikan bagi masyarakat yang memiliki usaha di sekitarnya. Salah satunya di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Kepala Desa Ngampel, Pujianto, membenarkan tidak adanya bantuan modal bagi pengusaha di wilayahnya. Hal itu semenjak diberlakukannya aturan larangan pemberian CSR berupa uang tunai.  “Kalau permodalan warga dapat dari simpan pinjam perempuan PNPM,” kata Kepala Desa yang terpilih untuk kedua kalinya itu.

Sementara itu, Kartini (22), warga Desa Ngampel RT 2 RW 01, mengungkapkan, orang tuanya sudah berjualan bakso puluhan tahun. Tetapi, belum sekalipun mendapatkan bantuan modal dari pemerintah desa maupun JOB P-PEJ.

“Pernah sekali waktu penanaman pipa dapat seratus ribu selama beberapa bulan sebagai ganti rugi karena harus membongkar warung, ” kata ibu satu anak itu.

Baca Juga :   Pertamina EP Cepu Serah Terimakan Program CSR di Tujuh Desa di Bojonegoro

Dia mengatakan, ayahnya yang bernama Karlis kini tidak bisa melanjutkan berjualan bakso karena faktor usia, sehingga Kartini menggantikannya.  “Sedangkan suami kerja jadi di bagian pengeboran, tapi bagian kuli Mbak,” katanya.

Warung yang letaknya berdekatan di Pad A, maupun Pad B Sukowati itu hampir tidak ada perubahan. Bangunannya masih nampak sederhana dengan ukuran seadanya.  “Penghasilan ya lumayan, bisa bantu orang tua dirumah yang tidak punya pekerjaan apa-apa,” ungkapnya.

Kartini menceritakan, modal yang didapatkan dari simpan pinjam perempuan program nasional pemberdayaan mandiri perdesaan (SPP PNPMP) jumlahnya hanya sedikit yaitu Rp 1.000.000 dengan cicilan satu tahun. Pinjman itu  hanya diberikan ibu-ibu di desanya yang dianggap benar-benar membutuhkan.

“Setahu saya tidak ada sekalipun bantuan modal untuk usaha,” kata Kartini.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *