SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Mundurnya puncak produksi Banyuurip, Blok Cepu sebesar 165 ribu barel per hari (bph) pada tahun 2015 mendatang, membuat pemerintah kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami kerugian. Sebab pendapatan dari bagi hasil (DBH) migas  juga akan ikut mundur.
Bupati Bojonegoro, Suyoto, mengatakan, kemunduran proyek Blok Cepu dari kontrak yang sudah ditentukan sebelumnya memang tidak bisa dihindari. Hal itu dikarenakan faktor cuaca terutama saat memasuki musim penghujan.
“Kemunduran puncak produksi pasti mempengaruhi dana bagi hasil migas kita,” kata Suyoto, Sabtu (29/3/2014).
Dia menyampaikan, adanya kemunduran yang terjadi ke tiga kalinya ini membuat potensi pendapatan dari DBH migas tidak mencapai target seperti yang diprediksikan sebelumnya. Sesuai catatannya, produksi pertama dijadwalkan pada kuartal pertama 2014, kemudian Agustus 2014, dan terakhir akhir tahun 2014.
“Terutama ya mempengaruhi waktu,” tandasnya.
Sementara itu, Community Affair and Manager, PT Tripatra, Budi Karyawan mengungkapkan, telah menambah jumlah tenaga kerja sebesar 6000 orang pada shift pagi dan 1000 orang pada shift malam di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu.
“Penambahan jumlah tenaga kerja untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan dengan waktu bekerja dua puluh empat jam,” tegasnya.(rien)