Pekerja Keras Yang Pantang Menyerah

SuaraBanyuurip.com

Tidak benar kalau tenaga kerja di proyek EPC-1 Banyuurip hanya pria. Warinah salah satu buktinya.

Pagi masih sangat muda. Warinah sudah bersiap melakukan rutinitasnya sebagai office boy/office girl (OB) di perkantoran PT Tripatra Engineers & Constructors, pelaksana proyek engineering, procurement and constructions (EPC) -1 Banyuurip, Blok Cepu.

Dengan berpakain seragam lengkap dengan sepatu safety, wanita kelahiran RT04/RW01, Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur itu menuju perkantoran yang berada di lokasi proyek EPC-1 Banyuurip.

“Berangkat dari rumah pagi jam 02.30 sampai kantor jam 03.00,” kata Warinah kepada Suara Banyuurip ditemui usai pulang kerja pukul 17.00 WIB.

“Memang harus pagi berangkatnya, Mas. Sebelum orang-orang kantor datang semuanya sudah harus bersih. Apalagi sekarang kantornya tambah luas,” lanjut dia menerangkan.

Ada beberapa tugas yang musti dilakukan Warsinah saban harinya. Mulai dari membersihkan perkantoran seperti menyapu, mengepel, hingga menyiapkan minum bagi karyawan perkantoran yang jumlah mencapai sekira 100 orang dalam satu ruangan tersebut. Pekerjaan itu dia lakukan bersama tiga rekannya. 

“Kebanyakan saya melayani karyawan MCL yang ada di situ. Baik orang bule atu orang asing maupun karyawan local atau Indonesia,” aku Warinah.

Sebagai seorang OB, Warinah harus mengetahui bahkan hafal dengan selera karyawan yang dilayaninya. Seperti membuatkan kopi, teh maupun minumannya lainnya. Karena antara satu karyawan dengan karyawan lainnya memiliki selera beda.

“Saya sampai hafal selera para karyawan di sana.  Sebab banyak karyawan yang minta dilayani saya. Bapak-bapak dan ibu-ibu di sana binggung kalau saya sedang libur,” ujar perempuan berusia 43 tahun itu ramah. 

Bagi Warinah, menjadi seorang OB pada sebuah perusahaan nasional Jakarta adalah sebuah kebanggan tersendiri.  Sebab dengan latar belakang pendidikan yang hanya lulusan sekolah dasar (SD), dia dapat melayani para pekerja yang memiliki gelar sarjana.

Karena itulah sebelumnya Warinah tak menyangka  akan bisa menjadi OB. Karena pekerjaannya di Tripatra dia mulai dari sebagai seorang kuli proyek di Banyuurip. Kemudian menjadi flaglady yang bertugas membantu mengatur lalu lintas. Awal menjadi flaglady pada 2012, Warinah ditempatkan di depan MTs Bahrul Ulum Desa Gayam. Kemudian beberapa minggu dipindah ke perempatan Pasar Desa Gayam.

Baca Juga :   Disana Masih Ada Warung Mbak Parti

Di tempat itu banyak suka duka yang dialami Warinah selama menjadi flaglady. Yakni Ia harus menghadapi para pengendara maupun pedagang pasar yang bandel yang sulit diatur. Karena itulah tak jarang dia harus bersikap tegas bahkan beradu mulut dengan para pengguna jalan maupun pedagang pasar agar tertib berlalu lintas sehingga kemacetan dan kecelakaan lalu lintas terhindarkan.

“Walah dulu sering banget beradu mulut dengan pengguna jalan dan pedagang. Apalagi kalau pas pasaran di situ padat banget arus kendaraan dan barengan dengan anak-anak sekolah. Jadi saya harus tegas mengatur lalu lintas, terutama bagi pengendara dan pedagang yang memarkir kendaraannya sembarangan di pinggir jalan,” kenang Wanita yang dikaruniai tiga anak dan dua cucu itu.

“Karena sikap saya itu, saya sempat dijuluki oleh orang-orang flaglady paling galak se Bojonegoro,” lanjut Warinah sambil tertawa. 

Namun dengan bekal pelatihan yang dia peroleh dari Tripatra sebelum diterjunkan menjadi flaglady, Warinah dapat mengatasi permasalahan tersebut. Walaupun perempuan Warinah mampu mengembang tugasnya dengan baik. Bahkan dia salah satu flaglady yang mendapatkan sertipikat.

Karena semangat bekerjanya yang begitu tinggi dalam mengemban tugas itulah yang dimungkinkan menjadi salah satu alasan Tripatra merekrutnya menjadi OB. Setelah empat bulan menjadi flaglady, Warinah ditugasi melayani para karyawan di kantor Tripatra dengan penghasilan.

“Alhamdulillah sekali Mas, saya sekarang bisa bekerja sebagai OB. Saya bisa menghidupi keluarga, bahkan saya juga sudah menyelesaikan kreditan motor dan memperbaiki rumah sedikit-sedikit dari hasil keringat saya sendiri,” kata Warinah.

Harapan Warinah  hanya satu. Yaitu bisa terus bekerja sehingga bisa menghidupi keluarga dan menyekelohkan anaknya yang saat ini masih duduk dibangku kelas III MTs hingga perguruan tinggi nanti. Sebab hanya pekerjaan itulah yang menjadi satu-satunya sumber kehidupan keluargnya karena selain tak punya sawah ladang, suaminya juga tak bekerja.

Baca Juga :   'Ider-ider' Awali Festival Bengawan Bojonegoro

Tulang punggung keluarga pun menjadi tanggungjawab Warinah yang tak bisa dielak. Meski begitu, Kartini Blok Cepu itu tak pernah sedikitpun mengeluh berkawan dengan takdir hidup yang getir. Semua dijalaninya dengan ihklas.

Pelibatan kaum perempuan oleh Tripatra di proyek Banyuurip, merupakan satu bentuk pemberdayaan. Karena era saat ini perempuan tak hanya memiliki tugas  di dapur, menjemur dan di kasur. Melainkan memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam berkarier.

“Ini sebagai bentuk emansipasi wanita. Ada banyak karyawan kami yang perempuan. Mereka bekerja sesuai kapabilitasnya,” sambung Community Affairs PT. Tripatra Engineers & Cosntructors, Budi Karyawan dikonfirmasi terpisah.

Dia menyebutkan, sesuai data yang ada jumlah pekerja wanita sebanyak 146 orang dari total karyawan Tripatra sebanyak 6.388 orang. Dari jumlah tersebut 2,3 persennya terdiri dari 3 orang sebagai professional dengan rincian 126 orang tenaga skill dan 17 orang tenaga unskill.

“Memang kalau bicara tenaga kerja proyek masyarakat akan membayangkan ke pria yang berpanas-panasan bekerja, tapi sebenarnya beberapa peluang bisa diraih oleh kaum wanita juga,” ujar Budi.

Menurut Budi data diatas belum termasuk tenaga yang tidak langsung berhubungan dengan kegiatan proyek, seperti tenaga catering dan perhotelan, bisa dihitung secara kasar, saat ini terdapat 13 perusahaan catering dan sekira 12 hotel di Bojonegoro yang melayani karyawan EPC-1 banyuurip. Rata-rata perusahaan catering atau hotel memperkerjakan 8 – 15 orang yang mayoritas wanita.

“Warinah adalah salah satu contoh wanita yang menangkap peluang kerja dan berjuang dengan keringat dan kegigihannya untuk menghidupi keluarga. Orang seperti dia patut menjadi inspirasi bagi pekerja lainnya,” pungkas Budi. (winarto)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *