SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto, meminta Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk memisahkan pembukuan atau accounting Banyuurip jenis oil (minyak), dan eksploitasi dan ekspolrasi gas.
Dia menjelaskan, jika keduanya digabung maka cost recovery-nya akan jadi panjang. Sehingga pemisahan dilakukan, agar ada ketegasan sekaligus mempercepat pendapatan yang didapat daerah.Â
Sementara itu, Direktur Utama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bojonegoro, PT Asri Dharma Sejahtera (ADS), Ganesha Askari, mengatakan, sudah merencanakan pemisahan accounting antara minyak di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu yang dioperatori Mobil Cepu Ltd (MCL), dan gas di Lapangan Jambaran-Tiung Biru – Cendana yang dioperatori Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC).
Dengan pemisahan tersebut, akan bisa memperjelas Plan of Development (PoD) antara Lapangan Banyuurip dengan Gas Cepu yang mencakup Lapangan Jambaran-Tiung Biru-Cendana.
“Kalau accountingnya terpisah, maka  penyetoran cash flow-nya juga otomatis terpisah,” tegasnya.
Sesuai skenario, minyak yang dihasilkan pada puncak produksi Banyuurip sebesar 165 ribu barel per hari (bph) yang didapat dari 49 sumur pada Oktober 2014 mendatang. Sementara Gas Cepu  yang dihasilkan dari Lapangan Jambaran-Tiung Biru-Cendana akan diproses melalui Gas processing facility pada tahun  2013-2017 selama 5 tahun dari 16 sumur dengan investasi sesuai PoD Jambaran-Tiung Biru-Cendana senilai USD3,4 miliar.
“Sementara tahun 2018-2034 selama 16 tahun operasional investasinya senilai USD2.0 miliar dengan perkiraan Gas yang keluar sebesar 330 MMSCFD,” pungkas Ganesha.
Sementara itu, Humas SKK Migas, Handoyo B Santoso, masih belum memberikan konfirmasinya mengenai hal tersebut. (rien)