SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Tuban – Ironi. Kata itu terasa tak jauh menyimpang dari kondisi perempuan desa di wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Gerakan Bersama Membantu Masyarakat Miskin (Gematumaskin) yang digembar-gemborkan Pemkab Tuban, ternyata belum teruji keampuhannya. Realitas di lapangan menyebut, masih banyak kaum perempuan membanting tulang sebagai kuli bangunan.
Setidaknya itu bisa ditemui proyek pembangunan jalan poros kecamatan yang menghubungkan Kecamatan Palang dan Widang. Disana belasan perempuan tampak membaur dengan kuli lelaki, mengerjakan proyek jalan.
Di tengah terik matahari kaum ibu itu menghalau jilatan panas dengan caping anyaman bambu. Mereka harus mengeluarkan tenaga ektra untuk mengangkut material, kemudian ditebarkan di jalan yang dibangun.
“Terpaksa ikut jadi kuli, Pak,“ ujar salah satu pekerja perempuan tersebut, Selasa (22/4/2014).
Perempuan yang mengaku bernama Warsini itu, sudah sekitar sebulan ikut nguli karena penghasilan suaminya sebagai buruh tani tidak mencukupi biaya hidup. Dalam sehari rata-rata para kuli perempuan tersebut mendapatkan penghasilan Rp60 ribu.
“Dari pada nganggur, Pak. Lumayan bisa buat beli elpiji,“ ujarnya lagi. (tok)