SuaraBanyuurip.com -Â Edy Purnomo
Tuban – Sawal Muna, (45), pelaku sodomi yang ditangkap Satreskrim Polres Tuban memiliki cerita kelam. Dia mengaku pernah beristrikan seorang waria, hingga mempunyai pasangan kumpul kebo dengan salah satu perempuan.
Berangkat dari tanah kelahirannya, Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 1988 silam, Sawal Muna, yang hanya lulus SMP merantau ke kota Surabaya. Di kota Pahlawan itu, dia menjadi pedagang asongan di sekitar kompleks pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.
Sawal yang saat itu masih muda harus bekerja keras membanting tulang untuk menyambung hidup di kota perantauan. Sawal kemudian berkenalan dengan seorang waria. Kepada Sawal, waria tersebut mengaku bernama Yoyok. Perkenalan dua makhluk sesama jenis inipun berlanjut dengan hubungan pertemanan. Bahkan bisa dikatakan lebih.
Yoyok, yang juga mempunyai usaha salon kecantikan tersebut bahkan menganggap Sawal sebagai suaminya. Bahkan menanggung semua biaya hidup Sawal, karena ada kemiripan wajah Sawal dengan suami Yoyok sebelumnya.
Hidup dan tinggal bersama seorang waria. Pria yang awalnya normal inipun mulai menyukai hubungan sesama jenis. Bahkan dia juga mengatakan kalau pernah melakukan hubungan tersebut dengan waria lain. Termasuk dengan teman-teman Yoyok.
Baru sebentar, hubungan Yoyok dan Sawal harus berakhir. Menyusul meninggalnya Yoyok pada kisaran tahun 1991. Kemudian Sawal pun merantau ke Kabupaten Tuban.
“Saya masuk ke Tuban pada tahun 1991,†kata Sawal Muna, ketika berada di Mapolres Tuban, Selasa (6/6/2014).
Sawal mengatakan, sejak bertemu dengan waria tersebut orientasi seksualnya mulai berubah. Dia menyukai hubungan dengan sesama jenis. Serta selalu tertarik dengan anak laki-laki. Di sini dia juga kerap melakukan hubungan seksual sejenis, terbanyak dilakukan di kawasan pantai Boom. Tempat di mana banyak waria bermukim di Tuban sebelum kisaran tahun 2004 lalu.
“Saat itu di pantai boom masih banyak waria,†kata Sawal.
Kendati demikian, pada tahun 1994, Sawal mengaku pernah kembali ke kampung halaman di Kendari, Sultra. Di kampung halamannya itu, Sawal berusaha mendorong hasratnya untuk tertarik kepada perempuan. Salah satunya dengan menjalin hubungan bersama seorang perempuan yang dia ingat bernama Subi Rahayu.
“Kami hidup serumah meski belum menikah,†ujar Sawal.
Lagi-lagi upaya Sawal menutup hidup kandas. Subi Rahayu, perempuan yang mulai dicintai Sawal pun meninggal dunia tidak lama setelah mereka berhubungan.
“Subi sudah meninggal dunia,†kata Sawal ditanya keberadaan perempuan idamannya.
Sawal pun kembali ke Kabupaten Tuban dan kembali menjalani aktivitasnya sebagai penjual poster di kawasan terminal wisata Sunan Bonang, Tuban. Dia kemudian sering bermain di kawasan Pantai Boom. Serta menuntaskan hasratnya dengan sesama jenis.
Dia juga mengakui masih mengingat nama EF, (24), salah satu pemuda yang menjadi korban sodomi dia ketika masih berusia 16 tahun. Dia sendiri, hanya mengingat sekitar 3 nama saja korbannay. Serta tidak tahu di mana saja posisi tinggal korban saat ini.
Kepada sejumlah jurnalis, Sawal sempat meminta fotonya dipublikasikan. Supaya semua korban kembali mengingat wajahnya. Dia mengaku terakhir kali melakukan sodomi anak laki-laki pada tahun 2006 lalu. sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan berjualan striker dan buku-buku religi di sejumlah tempat. Diantaranya makam Sunan Bonang dan juga makam Asmoro Qondi.
“Saya minta di foto dan wajah saya tidak usah ditutupi, supaya kalau ada korban yang kembali mengenali saya. Saya sudah bertobat!†katanya tegas kepada para wartawan.(edy purnomo)