SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Tak semua warga sekitar ladang migas Blok Cepu berrminat menjadi tenaga kerja (Naker) proyek Banyuurip. Namun, ada warga yang memilih menangkap peluang usaha sebagai penjual burung dan pakan.
Seperti yang dilakukan Ali, warga Desa Kalitidu, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. “Saya lebih memilih sebagai penjual burung saja, Mas. Ketimbang menjadi Naker proyek. Karena selain keterbatasan pengalaman didunia migas, bisnis sebagai penjual burung itu menyenangkan. Sekalipun hasil yang saya dapat tidak bisa ditentukan,” kata Ali kepada suarabanuurip.com, Selasa (13/05/2014).
Menekuni sebagai penjual burung, lanjut Ali, sudah dilakukan sejak masih hidup membujang. Sedangkan, setiap harinya dia bisa menjual burung enam ekor sampai tuju burung. Adapun harganya relatif  melihat jenis burung.
“Kalau jenis burung Kenari, Cendet Rp300.00 ada juga yang Rp500.000. Sedangkan, kalau jenis Burung Murai harganya lebih dari Rp3 juta, Mas. Pembelinya, selain warga sekitar juga ada dari pekerja proyek Banyuurip,” ujar Ali menjelaskan.
Dalam perjalanan waktu Ali mampu mengembangkan usahanya dengan menjual pakan barung. Seperti ulat, wur dalan lain sebagainya. “Karena banyak yang tanya soal pakan akhirnya saya kembangkan. Sudah berjalan sekira 5 tahun. Kalau hasil tak dapat tidak mesti. Namun, rata-rata per hari bisa mencapai Rp300.000,” imbuh Ali.
“Saya juga menekuni jualan burung, Mas. Karena, usaha ini lumayan juga hasilnya untuk kebutuhan hidup. Apalagi, banyak juga dari pegawai migas yang suka burung. Katanya bisa untuk menghilangkan stres. Jadi, juga tak tekuni hingga sekarang ini,” sambung Kalim, warga Desa Gayam, Kecamatan Gayam. (sam)