SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Pekerja maupun manajemen dari PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (PT TPPI), sepertinya satu suara supaya kilang minyak tersebut dikuasai oleh negara.
Ada beberapa alasan yang mereka ungkapkan, berikut rangkuman dari Suarabanyuurip.com, Jumat (16/5/2014). Mengenai potensi dari kilang yang selama ini terkenal tertutup dari pengetahuan publik.
Pertama, PT TPPI mengklaim dapat memproduksi premium sebesar 900.000 barel per bulan, atau 30 ribu barel per hari. Jumlah ini dianggap dapat menyumbang 5 persen dari kebutuhan premium nasional. Bahkan para pekerja mengatakan, kalau memaksimalkan potensi di PT TPPI, dapat mengolah kondensat menjadi premium sebesar 50 ribu barel per hari, atau 1,5 juta barel per bulan.
“Jumlah ini lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan premium Pantura Jawa Timur dan Bali,†kata General Manager PT TPPI, Masputro Agung.
Kedua, PT TPPI merupakan kilang satu-satunya yang dapat mengolah kondensat menjadi bahan bakar. Diantaranya, Paraxylene, Orthoxylene, Benzene, Toluene, dan Reformate. Bahkan kilang ini dapat juga mengubah kondensat menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) sesuai kebutuhan, seperti Premium 88, Mogas 88, LPG, Kerosene, Dio.esel, dan LSFO/PTCF.
“Selama ini belum ada kilang di Indonesia yang dapat mengubah kondensat menjadi BBM, karena 6 kilang milik Pertamina hanya mengelola minyak mentah menjadi BBM,†jelas Masputro Agung.
“Kalau tidak ada TPPI, kondensat tentunya tidak dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar dan ikut membantu kebutuhan nasional,†tambah Masputro Agung.
Selain itu, PT TPPI dianggap mempunyai letak yang strategis. Karena berada tepat di tepi laut utara Jawa. Dekat dengan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) milik Pertamina, dan juga dapat mengelola potensi gas sumber, Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, yang ditemukan oleh Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ).
Sementara itu, Serikat Pekerja PT TPPI, Suhariyadi, mengatakan, selain fasilitas dan aset yang mencapai triliunan rupiah, di tempat itu juga tersedia sumber daya manusia yang siap pakai.
“Ada ratusan pekerja yang sumber dayanya siap pakai, di samping fasilitas-fasilitas kilang minyak yang sangat disayangkan apabila tidak segera diambil alih oleh Pemerintah,†jelas Suhariyadi. (edp)