SuaraBanyuurip.com -Â D Suko Nugroho
Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan puncak produksi minyak Blok Cepu sebesar 165 ribu barel per hari (bph) terlaksana pada kuartal I (pertama) tahun 2015.
“Target kita Mei tahun depan sudah terlaksana,” kata Kepala Humas SKK Migas, Handoyo Budi Santoso kepada suarabanyuurip.com usai sarasehan dengan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) dan media nasional maupun lokal di Indonesia yang daerahnya terdapat industri migas di Aula SKK Migas di Jakarta, Selasa (20/5/2014).
Handoyo mengaku optimis target itu terealisasi. Sebab dia mengklaim saat ini total keseluruhan project engineering, procurement and construction (EPC) Banyuurip telah mencapai sekira 90 persen. Proyek fasilitas penunjang produksi Banyuurip yang dipecah dalam lima paket itu ditargetkan selesai pada November ini.
“Kemarin waktu Pak Wapres kesana project telah mencapai 87 persen. Kalau sekarang ya sudah hampir 90 an persen,” tandas Handoyo.
Dia menjelaskan, produksi minyak Banyuurip itu akan mengalami peningkatan secara bertahap hingga pada produksi puncaknya. Saat ini produksi Banyuurip telah mencapai 29 ribu barel. Jumlah produksi itu akan ditingkatkan 10 ribu pada November ini.
Handoyo menambahkan, saat ini produksi minyak nasional mencapai sekira 800 ribu bph dari target 1 juta bph. Target itu dapat dipenuhi salah satunya jika Lapangan Banyuurip yang berada di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu sudah produksi puncak.
“Karena itu kami harapkan dukungan semua pihak agar Cepu bisa segera berproduksi puncak,” pungkas Handoyo.
Data di lapangan, dari lima paket pekerjaan EPC tinggal menyisakan dua paket pekerjaan yang sampai saat ini masih berlangsung. Yakni EPC-1 Banyuurip dengan kontraktor Konsorsium PT. Tripatra Engineers & Constructors – Samsung, yang mengerjakan fasilitas pemrosesan minyak mentah berkapasitas 185 ribu barel. Kemudian EPC-5 dengan jenis pekerjaan pembangunan perkantoran dan waduk buatan untuk injeksi yang dikerjakan Konsorsium PT. Rekayasa Industri (Rekind) – Hutama Karya (HK).
Setelah semua pekerjaan fasilitas penunjang produksi itu selesai akan dilakukan tes atau uji coba peralatan satu persatu sehingga membutuhkan tambahan waktu.(suko)