40 Persen Warga Sekaran di Perantauan

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan – Sekitar 40 persen warga di wilayah Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur merantau ke luar desa. Mayoritas mereka membuka usaha berjualan soto, dan pecel lele.

Jika memasuki desa-desa di Kecamatan Sekaran, jangan heran bila mendapatkan suasana yang lengang. Kebanyakan yang tinggal hanya kaum lansia, perempuan dan anak-anak.

“Dari 22 desa di Kecamatan Sekaran, 40 persen warganya bekerja diperantauan, “ kata Camat Sekaran, Yaslihan, kepada SuaraBanyuurip.com, Jumat (23/5/2014).

Bekerja di perantauan dengan membuka warung makan menjadi pilihan karena lebih menjanjikan dari pada menggarap sawah di desa. Apalagi telah terbukti banyak yang meraih sukses dengan membuka warung yang menjual makanan khas Lamongan (soto dan pecel lele).

“Di setiap kota besar di Indonesia pasti terdapat orang Sekaran. Mereka membentuk paguyupan sehingga lebih memudahkan koordinasi, “ cetus Yaslihan.

Sukses yang mereka rintis di perantauan selalu dibawa kembali pulang ke desa dengan membangun rumah megah. Meski banyak rumah-rumah megah berlantai dua namun kondisinya kosong.

Baca Juga :   Pemkab Bojonegoro Siapkan Langkah Hadapi Kemarau Panjang 2026

“Membangun rumah di desa dijadikan invest. Sayangnya setelah membangun rumah dibiarkan suwung (tak berpenghuni-Red),“ cetus Yaslihan lagi.

Kades Karang, Sekaran, Muhtar, mengatakan, sebanyak 1.700 jiwa dari 600 kepala keluarga (KK) di desanya, sekitar 40 persen bekerja di perantauan.

“Hampir di semua pulau di Indonesia pasti terdapat warga Karang. Warga perantauan asal Karang terhimpun dalam wadah kerukunan keluarga Karang, “ kata Muhtar.

Senada disampaikan Kades Porodeso, Sekaran, M Gozali.  Dia menjelaskan, hampir separuh warganya bekerja di Jakarta, dan kota besar lainnya di luar pulau Jawa.

“Biasanya setelah lulus sekolah, anak sini langsung ikut bekerja di warung salah satu keluarganya. Awalnya bantu-bantu, beberapa tahun kemudian membuka usaha sendiri. Hal itu sudah mentradisi di Desa Porodeso, “ ujar M.Gozali yang sempat 5 tahun membuka warung makan di Jakarta sebelum kembali ke desa menjabat Kades. (tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *