SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, tengah menyiapkan langkah-langkah teknis guna mengantisipasi potensi kemarau panjang tahun 2026 yang diperkirakan berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.
Fenomena perubahan iklim, khususnya El Nino, berpotensi menyebabkan kemarau panjang yang diprediksi mulai akhir Mei dan mencapai puncak pada Agustus hingga September 2026.
Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro, Nurul Azizah mengatakan, berdasarkan data, sekitar 93 desa di Bojonegoro berpotensi mengalami kekeringan. Karena itu, pemerintah mendorong percepatan masa tanam padi pada Maret hingga Mei agar panen dapat dilakukan sebelum puncak kemarau.
Selain itu, perempuan santun dan ramah ini mengarahkan masyarakat agar melakukan diversifikasi tanaman dengan memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering, seperti jagung dan tembakau.
“Dengan memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering, harapannya tetap dapat menjaga produktivitas pertanian,” tambah mantan Sekda ini.
Di sektor air bersih, pemerintah menekankan pentingnya pembangunan sumur bor dan optimalisasi sumber air. Penanganan kekeringan, menurutnya, tidak bisa hanya mengandalkan distribusi air bersih, tetapi harus disiapkan solusi jangka panjang berbasis potensi lokal.
“Penanganan kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan dropping air bersih, tetapi perlu solusi jangka panjang yang berbasis pada potensi lokal dan data yang akurat,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, menjelaskan, bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah teknis untuk memitigasi dampak kemarau panjang.
”Optimalisasi infrastruktur air menjadi salah satu prioritas melalui pemaksimalan pompanisasi serta perbaikan saluran irigasi di titik-titik strategis guna meminimalisir kekurangan pasokan air bagi lahan pertanian,” bebernya kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (30/4/2026).
Selain itu, percepatan masa tanam juga dilakukan dengan memanfaatkan sisa kelembapan tanah agar proses tanam dapat segera dilakukan sebelum kondisi semakin kering dan berdampak pada hasil panen.
Dalam upaya adaptasi, petani diimbau menggunakan varietas padi genjah seperti Cakrabuana dan Gamagora yang lebih cepat dipanen serta relatif tahan terhadap kondisi kekeringan. Di wilayah yang memiliki keterbatasan air, petani juga didorong beralih ke tanaman palawija atau tembakau sebagai alternatif.
Zaenal Fanani menambahkan, perlindungan terhadap risiko gagal panen juga diperkuat dengan mendorong petani mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Kemudian ihwal manajemen air akan diatur melalui sistem pengairan bergiliran berdasarkan rekomendasi teknis. Pemerintah desa juga diminta mengaktifkan lumbung pangan guna menjaga stabilitas harga gabah saat panen raya.
”Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah juga melakukan pembangunan sumber air, termasuk sumur bor yang didukung melalui anggaran APBD, guna memperkuat ketahanan sektor pertanian menghadapi perubahan iklim,” tandas Zaenal Fanani.(fin)





